05 Juni 2010

WISATA KE BAHOI


BAHOI

DESA YANG PEDULI MELESTARIKAN LINGKUNGAN

Bahoi Adalah sebuah desa kecil di pesisir Sulawesi Utara. Secara administrasi, desa ini terletak di Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Dari pusat kota Manado dapat ditempuh dengan jalan darat sekitar 1,5 jam, dengan jalan yang mulus, dapat ditempuh dengan berbagai jenis kendaraan.

Desa ini memiliki daerah perlindungan mangrove (DPM) dan daerah perlindungan laut (DPL). Kawasan yang dilindungi ini sangat berarti bagi masyarakat yang lebih dari 50% penduduknya adalah nelayan. Masayrakat percaya kawasan yang dilindungi yang berupa hutan mangrove dan laut yang terhampar berupa terumbu karang merupakan daerah untuk pemijahan berbagai jenis ikan.

Bahoi mempunyai sejarah yang panjang sehingga masyarakat peduli untuk melestarian alam dan lingkungan di pesisir. Dari kejauhan desa ini masih hijau, pepohonan yang menutupi perbukitan di tas desa itu, menandakan mereka sangat peduli terhadap kelestaraian alam. Tak hanya daratan, lautan pun mereka berusaha melindungi dari kerusakan, mereka yakin sebagai nelayan, bahwa pelestarian pesisir terutama mangrove dan terumbu karang akan mendatangkan berkah.

Keindahan alam itu, kini dicoba untuk dikemas menjadi sebuah paket wisata alam, banyak orang menyebut ekowisata, wisata lingkungan, wisata pendidikan, entahlah banyak sekali istilah itu, Tapi pada prinsipnya masyarakat Bahoi, mencoba untuk menibgkatkan sumber daya manusianya untuk pengembangan program itu.

Aku berkesempatan untuk berbagai ilmu mengenai manajemen ekowisata yang mendukung dalam pengembangan tersebut. Tak hanya menyiapkan pemandu yang akan menemani para wisatwan ke lapangan, juga kecakapan mengenai P3K dan keselamatan dalam pemanduan. Selain itu factor pendukung lainnya adalah makanan, home stay (penginapan), kerajinan, transportasi. Dan yang penting juga ada keahlian dalam mengemas paket wisata serta memasarkannya.

Kawasan ini sangat menarik, keindahannya alam dan lingkungan layak untuk dipasarkan. Apalagi bagi wisatawan yang peduli terhadap kelestarian lingkungan, baik mangrove dan terumbu karang. Beberapa wisatawan yang datang, umumnya ingin melihat keindahan alam di bawah perairan yang menakjubkan. Konon menerut para penyelam atau masyarakat yang pernah memandu, keindahannya tak kalah dengan Taman nasional laut Bunaken. Hampir terumbu karang yang ada di taman nasional itu ditemukan di perairan Desa Bahoi. Jenis-jenis ikan juga demikian.

Akan tetapi kegiatan pelestarian alam dan lingkungan pesisir ini murni dilakukan oleh masyarakat, perlu me dapatkan apresiasi dan dukungan. Sementara di beberapa tempat banyak masayrakat yang belum menyadari akan penting pelestarian alam dan lingkungan, di Bahoi telah dilakukan secara bahu membahu, baik pria dan wanita untuk melestarian alam.

Kawasan yang dilindungi, sebenarnya tidaklah terllalu luas, hanya sekitar 10 hektar. Dimana 30% nya adalah hutan mangrove. Akan tetapi dalam skala desa, merupakan kawasan yang cukup luas, untuk melindungu pantai, dimana penduduk bermukim. Untuk melindungi kawasanitu masyarakat membuat aturan desa atau sering di sebut dengan Perdes, yang harus ditaati oleh warga desa. Kasawan dibatasi dengan pagar apaung yang dihubungkan dengan tali. Pelampung yang terbuat dari stereoform itu diberi tanda warna kuning, yang menunjukkan sebagai Zona Inti, dimana masyarakat tidak boleh melewati kawasan dalam pagar tersebut, kecuali ada ijin khusus. Karena dalam zona into, masih banyak ditemukan terumbu karang yang sangat indah serta hutan bakau yang terjaga dengan baik.

Zona inti ini diyakini sebagai tembat untuk berkembang biak semua jenis ikan, lobster, ikan karang, udang dsb. Sehingga perlu dilestariakan agar masyarakat nelayan teidak perlu melaut jauh untuk mencari ikan.

Merupakan suatu contoh kegiatan yang terkait dengan usaha pelestarian alam dan kegiatan perekonomian. Kawasan lindung yang dapat memberikan nilai ekonomi baik secara langsung maupun tidak perlu dilakukan. Pengembangan ekowisata yang akan dilakukan ini sangat mendukung dalam program pelestaraian alam. Alam yang indah yang dilindungi, tak harus dilihat, ditonton, akan tetapi juga perlu dikemas menjadi paket yang menghasilkan dan menaikkan pendapatan masyarakat. Kini Bahoi mulai bebenah, anak-anak muda disiapkan agar mereka kelak yang meneruskan pekerjaan orangtua mereka yang rata-rata sebagai nelayan. Dan kegiatan lain mencoba membuka wacana baru bagi generasi muda dengan kegiatan pelestarian alam dan ekowisata, untuk membuka lapangan pekerjaan baru. Selamat Bahoi, semoga cita-cita luhur para tetua untuk melestariakan alam untuk kesejahteraan terwijud, dan generasi muda mau melajutkan.

Bahoi, 26 Maret 2010.

0 komentar:

AKU DAN SISWOYO

AKU DAN SISWOYO
Aku dan Sis tahun 1983, waktu pertama kali melakukan penelitian orangutan, Dia meninggal saat melahirkan anak, terlulu sering melahirkan. Biasanya orangutan, jarak kelahiran anak yang satu dengan yang lain 5-7 tahun. Tapi Sis kurang dari 4 tahun. Maklum setiap harii di Camp, badan subur dan jantanpun sering menaksirnya. Saat melahirkan ari-arinya ketinggalan, terinfeksi setelah ditemukan sudah koma. Siswoyo punya anak 3, Siswi, Simon dan Sugarjito.