10 Maret 2011

DESA SEMANGKOK KALIMANTAN TIMUR

Selayang Pandang Desa Semangkok.
Laporan ini adalah laporan awal dari pengamatan untuk tujuan pengembangan masyarakat di desa Semangkok. Dalam deskripsi, hanya digambarkan data sekunder dan hasil pengamatan langsung secara empiris dari kondisi yang ada di masyarakat. Perlu pendalaman untuk menentukan strategi apa yang akan dilakukan kemudian. Tujuan dari laporan ini adalah untuk menentukan data detail yang harus diperoleh jika tujuan pengembangan sudah ditentukan. Selain gambaran pengembangan yang diharapkan dan data detail yang diperlukan, dalam laporan ini juga sedikit memberi gambaran tentang strategi yang perlu dilakukan ke depan.
Desa Semangkok adalah salah satu desa di Kecamatan Marangkayu Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Desa ini memiliki luas sekitar 18.000 ha, terletak di pesisir timur pulau Kalimantan. Kecamatan Marangkayu sendiri merupakan kecamatan pemekaran dari Kecamatan Muara Badak. Secara geografis Kecamatan Marangkayu terletak di titik antara 1170 06’-1170 30’ BT dan 00 13’-00 07’ LS. Desa Semangkok adalah salah satu desa dari 11 desa di kecamatan Marangkayu yang memiliki ketinggian rata-rata 5 m – 200 m DPL. Umumnya adalah dataran rendah bekas rawa gambut, kecuali beberapa daerah yang memiliki kontur berbukit-bukit. Kawasan ini memiliki curah hujan yang cukup tinggi, yaitu sekitar 2.000-4.000 mm per tahun. Suhu rata-rata sekitar 260 C dengan perbedaan suhu siang dan malam sekitar 50 -70 C. Terminal Santan, yaitu terminal penyaluran pipa gas yang dioperasikan oleh CHEVRON yang sebelumnya dioperasikan oleh UNOCAL sejak tahun 1971 secara geografis terletak di wilayah administrasi Desa Semangkok.
Populasi penduduk di desa Semangkok tercatat 3.046 jiwa yang didominasi suku Bugis atau sekitar 80 %, sisanya adalah suku Jawa, Kutai, dan Banjar. Desa Semangkok terbagi dalam 13 RT dan 5 dusun, yaitu dusun Tanjung Batu, Rapak Lama, Rapak Lama Dalam, Gunung Pasir, dan Gunung Menangis. Kawasan pemukiman awal desa Semangkok adalah kampung Rapak yang dibuka pada sekitar awal tahun 1960an. Di kampung ini masyarakat membuka lahan sawah yang saat ini memiliki luas sekitar 3.000 Ha. Pada awalnya masyarakat di kawasan ini juga menanam palawija dan lada. Pekerjaan utama masyarakat saat ini adalah petani dan buruh tani. Di kampung Bagang, mayoritas penduduk adalah nelayan.
Pendidikan masyarakat di desa Semangkok sudah cukup baik. Ada satu orang yang menamatkan pendidikan sampai S2, 15 orang tamat S1 dan sekitar 9 orang tamat diploma. Di desa ini ada sekolah sampai tingkat SMP, dan untuk melanjutkan sampai SMA harus ke Kecamatan Marangkayu yang berjarak sekitar 10 Km dari desa Semangkok.
1.1. Kampung Bagang
Kampung ini merupakan pemukiman dengan komunitas nelayan jaring, pancing dan bagang. Bagang adalah semacam rumpon yang dibangun di tengah laut yang dikunjungi secara berkala untuk memancing atau menjaring ikan. Jumlah penduduk di Kampung Bagang sekitar 44 KK. Mayoritas penduduk kampung Bagang adalah suku Bugis dan hanya beberapa yang berasal dari suku Jawa. Selain sebagai nelayan, masyarakat kampung Bagang juga menggarap sawah dan lahan kering untuk tanaman holtikultura dan perkebunan. Luas lahan sawah sekitar 106 ha dan lahan kering sekitar 65,75 ha. Tanaman perkebunan di Kampung Bagang didominasi oleh tanaman kelapa. Sejak beberapa tahun belakangan ini masyarakat kampung Bagang mulai mencoba menanam tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa sawit. Saat ini di beberapa ladang milik masyarakat kampung Bagang terlihat sudah berumur sekitar satu tahun.
Perekonomian masyarakat kampung Bagang ditopang oleh kegiatan perikanan laut sebagai nelayan, dan budi daya pertanian. Beberapa anggota masyarakat kampung Bagang juga terlihat memelihara sapi yang masih diusahakan dengan sistem penggembalaan
Kondisi sumber daya alam yang berlimpah sangat berperan membantu sebagai sumber pendapatan masyarakat. Hasil laut yang masih sangat berlimpah memberikan hasil yang relatif masih baik meskipun pasang surut perolehan hasil perikanan laut sangat tergantung dari kondisi iklim. Hasil laut yang diperoleh oleh masyarakat adalah udang, kepiting, ikan teri dan beberapa ikan kecil lain untuk dibuat ikan asin. Nelayan pancing biasanya mendapat ikan seperti kakap, tongkol, dan beberapa jenis ikan karang. Pada musim-musim tertentu, nelayan mendapatkan udang dan ikan teri sangat berlimpah. Udang biasanya diperoleh dengan memasang jaring di wilayah pesisir pantai. Oleh karena banyak kawasan mangrove yang rusak, saat ini hasil tangkapan udang dan kepiting sudah sangat menurun.
Kehidupan nelayan yang sangat tergantung dengan musim dan cuaca, tidak selamanya memberikan jaminan ekonomi yang baik bagi masyarakat. Untuk menopang kebutuhan akan pangan masyarakat Kampung Bagang juga membuka lahan sawah atau menjadi buruh tani. Teknologi persawahan yang dilakukan masyarakat di Kampung Bagang tergolong cukup maju. Meskipun kawasan ini merupakan kawasan rawa gambut dengan keasaman air yang sangat asam (pH ≤3), masyarakat mampu membangun irigasi dan pengaturan air sangat baik. Cara bersawah menggunakan teknik yang mereka sebut sebagai teknik ‘tabula’ atau dengan menanam padi tanpa membuat persemaian, dan benih padi langsung ditebar di lahan sawah yang sudah dibajak. Kondisi alam yang sangat ektrim hanya menjajikan kemampuan panen rata-rata kurang dari 4 ton per hektar. Meskipun demikian, dengan jumlah penduduk, luas lahan persawahan yang ada saat ini dan tingkat produktivitasnya menunjukkan bahwa produktivitas padi di kawasan ini cukup untuk kebutuhan dan bahkan berlebih. Dengan kata lain produksi beras di kampung Bagang ternyata surplus. Lahan persawahan masyarakat kampung Bagang terletak agak jauh dari pemukiman.
Peternakan sapi belum menjadi kegiatan utama meskipun jumlah sapi di kampung ini berjumlah sekitar lebih dari 100 ekor. Hasil yang diperoleh dari peternakan sapi masih berupa menjual sapi setiap tahun sebagai penghasilan sampingan. Usaha peternakan di kampung Bagang dijalankan secara tradisional dengan melepas sapi ternak berkeliaran. Tidak ada ternak yang dikandangkan. Cara ini memicu konflik di masyarakat karena banyak tanaman pertanian yang menjadi sasaran dimakan oleh sapi. Selain itu sapi yang berkeliaran umumnya tak terurus, kondisi kesehatannya kurang baik dan banyak yang terserang penyakit.
Vegetasi yang memenuhi pemukiman kampung Bagang didominasi oleh tanaman kelapa. Pohon kelapa yang tumbuh di kampung ini sudah cukup tua. Beberapa di antaranya banyak yang sudah mati. Menurut cerita para tetua kampung, pohon kelapa yang ditanam masyarakat berumur hampir sama dengan berdirinya kampung. Kebun kelapa oleh masyarakat sudah dianggap tidak lagi memberi hasil yang memadai. Produktivitas pohon kelapa saat agak kurang meskipun harga saat ini relatif cukup baik. Mungkin pengusahaannya yang kurang intensif mengakibatkan hasilnya tidak optimal. Saat ini sangat jarang terlihat masyarakat yang mulai membibitkan atau meremajakan tanaman kelapa. Bahkan beberapa pohon kelapa saat ini batangnya dijual dan dikirim ke Jawa.
Hasil pertanian palawija, buah-buahan dan sayur mayur masih sangat rendah. Hanya beberapa masyarakat yang mengusahakan pertanian palawija dan sayuran seperti jagung, cabe, atau buah-buahan seperti pisang, durian, cempedak, dan rambutan. Kebutuhan palawija dan buah masih banyak yang didatangkan dari tempat lain. Sayuran untuk kebutuhan masyarakat masih dipenuhi dari kawasan pertanian di sekitar Bontang.
1.2. Kampung Rapak Lama
Sesuai dengan namanya, Kampung Rapak Lama atau lebih sering disebut sebagai Kampung Rapak, sebelumnya merupakan kawasan rawa. Rapak dalam bahasa Bugis berarti rawa-rawa. Kampung Rapak memiliki jumlah penduduk lebih padat dari kampung Bagang. Kondisi ekonomi masyarakat di kampung Rapak terlihat lebih baik. Banyak di antara mereka adalah karyawan perusahaan atau pegawai negeri seperti pegawai kecamatan, desa, atau guru. Selain menjadi pegawai, masyarakat di kampung Rapak masih banyak juga yang menekuni pekerjaan sebagai petani.
Pertanian di Kampung Rapak Lama didominasi oleh padi. Hamparan sawah terlihat sangat luas terbentang di sekitar kawasan kampung Rapak. Lahan pertanian di Kampung Rapak terletak agak jauh dari pemukiman dan merupakan komplek persawahan tersendiri. Teknologi bersawah yang diterapkan oleh masyarakat hampir sama untuk kawasan ini yaitu dengan menggunakan sistem ‘tabula’.
Pertanian palawija dilakukan di lahan tanah darat yang juga terletak agak jauh dari kampung. Lahan tanah darat yang diakui oleh masyarakat sangat luas, umunya merupakan lahan bekas hutan yang telah diambil kayunya. Sayang lahan itu kurang diurus sehingga menjadi kawasan terlantar yang sangat luas. Oleh karena tidak diurus maka praktis tidak memberikan hasil. Beberapa tahun terakhir ini banyak lahan-lahan itu diusahakan menjadi lahan perkebunan dengan komoditi karet dan kelapa sawit. Akan tetapi oleh karena di kawasan ini sangat kekurangan tenaga kerja maka perkebunan yang sudah dibuka sekarang banyak juga yang tidak diurus, ditinggal sudah cukup lama dan menjadi kawasan semak belukar yang terlantar.
Secara umum masyarakat kampung Rapak memiliki kegiatan pertanian sama seperti yang dilakukan oleh masyarakat di Kampung Bagang. Beberapa masyarakat memiliki ternak sapi, kebun kelapa di belakang rumah, dan memiliki lahan sawah dan tanah darat. Hanya beberapa masyarakat Rapak yang menjadi nelayan dan tidak sebanyak jika dibandingkan dengan nelayan di kampung Bagang.
Taraf kehidupan masyarakat di kampung Rapak sepintas lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi masyarakat di Kampung Bagang. Kondisi perumahan di kampung Rapak terlihat jauh lebih padat dan relatif lebih bagus. Di antara mereka terlihat banyak yang memiliki mobil dan bangunan rumah permanen dari batu. Di kampung Rapak banyak masyarakat yang memiliki usaha di berbagai bidang kegiatan, dari perdagangan sampai usaha menjadi pemborong bidang konstruksi.
2. Dinamika Kemasyarakat Desa Semangkok
Agak terasa aneh jika dibandingkan dengan daerah lain bahwa masyarakat desa Semangkok yang memiliki jumlah penduduk tidak lebih dari 4.000 orang memiliki sekitar 22 kelompok tani dan banyak lagi berbagai kelompok lainnya. Sudah dapat dipastikan bahwa terjadi saling tumpang tindih kegiatan di antara kelompok yang ada. Dari pengamatan dan komentar masyarakat sendiri mencatat bahwa kelompok-kelompok yang dibentuk itu semata hanya untuk memenuhi permintaan adanya berbagai program yang di buat oleh berbagai pihak baik swasta maupun pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat yang mensyaratkan penyaluran dana program hanya bisa melalui kelompok. Kelompok yang terbentuk di masyarakat biasanya bukan merupakan aspirasi yang muncul dari masyarakat sendiri.
Kampung Bagang dan Rapak adalah kampung yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Terminal Santan yang dioperasikan oleh CEVRON. Kampung ini ada sejak sebelum berdirinya Terminal Santan yang didirikan oleh UNOCAL pada tahun 1970an. Posisi geografis yang sangat dekat mengakibatkan kampung ini banyak memperoleh dampak, baik positif maupun negatif dari kegiatan perusahaan. Umumnya dampak yang melanda kampung adalah dampak sosial yang umumnya tidak pernah bisa direncanakan. Sayangnya juga dampak fisik yang seharusnya bisa direncanakan malahan berkembang liar mengikuti liarnya dampak sosial yang berjalan tanpa arah di masyarakat.
Sejak masa UNOCAL sebelum Terminal Santan dioperasikan oleh CEVRON, kegiatan kemasyarakatan yang dijalankan oleh perusahaan, menurut masyarakat arahnya ‘tidak jelas’. Perusahaan memang sudah mengeluarkan biaya cukup besar untuk kegiatan kemasyarakatan akan tetapi manfaatnya tidak banyak dirasakan langsung oleh masyarakat. Sejak sebelum terjadi kasus yang menurut masyarakat adalah ‘pencemaran lingkungan’ kawasan sekitar Terminal Santan adalah kawasan terpencil yang tertinggal dengan kondisi jalan dan jembatan yang kondisinya amat parah. Setelah terjadi demo oleh masyarakat, perhatian langsung perusahaan menjadi cukup intens, namun lagi-lagi kontrol terhadap kegiatan kemasyarakat agaknya kurang dilakukan oleh perusahaan. Masyarakat yang saat itu merasa telah dijanjikan oleh perusahaan (melalui pertemuan masyarakat dengan UNOCAL di Samarinda) untuk mendapatkan perhatian dari perusahaan, merasa perhatian itu tidak pernah kunjung datang. Hanya selama satu tahun setelah kejadian ‘pencemaran lingkungan’ perusahaan turun tangan dengan memberikan bantuan pupuk langsung ke masyarakat. Sesudahnya perhatian perusahaan menurun kembali dan kondisi itu malah memecah belah masyarakat. Beberapa tokoh masyarakat mendapat tuduhan oleh masyarakat telah menyelewengkan batuan perusahaan.
Pada saat Terminal Santan dioperasikan oleh CEVRON, hubungan perusahaan dengan masyarakat memang relatif lebih baik. Akan tetapi pola hubungan antara perusahaan dengan masyarakat oleh masyarakat dirasakan tidak sepenuh hati dan lebih banyak dipenuhi oleh kepentingan. Banyak dana yang dikeluarkan hanya untuk memadamkan gejolak ketidak-puasan yang ada di masyarakat dan bahkan malah menjadi ajang bisnis dan kepentingan orang-orang perusahaan sendiri. Bahkan pernah terjadi situasi di masyarakat yang sebenarnya sangat kondusif aman dan damai malah dibuat menjadi panas oleh provokasi orang perusahaan karena dipicu oleh persaingan kepentingan bisnis orang-orang di dalam perusahaan sendiri. Menurut beberapa tokoh masyarakat, persaingan antar orang di dalam perusahaan yang membuat banyak persoalan yang berkaitan dengan hubungan masyarakat dengan perusahaan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah menjadi rumit dan berlarut-larut.
Pola hubungan antara perusahaan dengan masyarakat hingga saat ini masih bersifat ‘meredam gejolak’. Pengertian arti kata CD yang seharusnya menjadi program Community Development dari perusahaan diterjemahkan oleh masyarakat menjadi taktik perusahaan untuk mengalihkan perhatian masyarakat agar tidak menuntut haknya yang harusnya menjadi kewajiban perusahaan untuk diberikan kepada masyarakat. Sayangnya menurut masyarakat, masih banyak orang-orang, terutama yang sering berhubungan dengan masyarakat masih kurang peka dengan kondis ini. Sepintas lalu, dan juga dikuatkan oleh pendapat beberapa orang di masyarakat, hingga saat ini hubungan antara perusahaan dan masyarakat masih tidak berubah. Sejak tiga tahun terakhir memang banyak perubahan di manajemen CEVRON yang tidak lagi memberi kesempatan untuk memberikan bantuan ke masyarakat secara langsung. Namun sistemnya mungkin perlu dibenahi agar tidak juga menjadi hambatan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Di Desa Semangkok secara sosial struktur masyarakat didominasi oleh beberapa keluarga tokoh masyarakat yang cukup berperan besar. Hingga saat ini masyarakat masih mengenal seorang tetua desa yang di panggil sebagai pak Kaseng dan dikenal sebagai pendiri kampung. Dalam situs internet blog desa Semangkok menyebutkan bahwa Tokoh ini dikenal oleh masyarakat sebagai pembuka kampung Rapak yang sekarang menjadi desa Semangkok. Akhir-akhir ini beberapa anggota keturunan pak Kaseng sepak terjangnya cukup mengganggu masyarakat dan agak kurang disukai oleh masyarakat. Tindakan-tindakan yang tidak disukai itu antara lain sapi peliharaannya berkeliaran semaunya di kampung dan memakan tanaman milik warga. Anggota keluarga ini juga dikenal dengan suka mengklaim tanah-tanah di sekitar Semangkok menjadi miliknya. Meskipun masyarakat tidak menyukai kelakuan anggota keluarga itu, namun hubungan kekerabatan mereka yang masih sangat dekat maka persoalan-persoalan itu dapat diredam.
Di desa Semangkok aktivitas sosial politik masyarakat sangat dinamis. Anggota DPRD Tk II Kab Kukar, pernah ada yang berasal dari daerah ini. Aspirasi politik masyarakat desa Semangkok sebagian besar disalurkan melalui partai Golkar. Masyarakat desa Semangkok sangat terbuka. Di pemukiman kampung Rapak yang berdampingan langsung dengan Terminal Santan sudah sejak lama berdiri lokalisasi prostitusi. Meskipun saat ini penghuni lokalisasi itu sudah sangat berkurang dan hanya tinggal satu rumah, namun belum ada tanda-tanda bahwa masyarakat sepenuhnya menolak. Ada beberapa kelompok masyarakat yang berusaha menolak namun dengan berbagai alasan masih terus mendapat halangan dari pemerintahan desa.
3. Potensi Sumber Daya Alam di kampung Bagang dan Kampung Rapak.
Kawasan desa Semangkok merupakan kawasan yang sangat subur. Berbagai komoditas perikanan, pertanian, peternakan dan perkebunan dapat dipastikan tumbuh dan berkembang dengan subur di kawasan ini. Secara umum kegiatan masyarakat di kampung-kampung masih didominasi oleh kegiatan perikanan, pertanian, peternakan, dan perkebunan. Luas lahan garapan relatif masih sangat luas. Umumnya setiap keluarga memiliki lahan garapan lebih dari 2 ha. Dibandingkan dengan lahan yang digarap dengan jumlah tenaga yang tersedia di masyarakat, dapat disimpulkan bahwa jumlah tenaga kerja yang tersedia tidak mencukupi untuk menggarap lahan yang ada. Kondisi ini mengakibatkan banyak kawasan yang terbengkalai tidak terurus. Meskipun kondisi alam di kawasan ini sangat ekstrim, yaitu dengan curah hujan yang cukup tinggi dan perubahan suhu yang cukup lebar..., namun ketersediaan humus di permukaan tanah yang cukup serta kemampuan adaptasi berbagai tanaman yang ada saat ini terlihat cukup baik, membuat berbagai komoditi pertanian di kawasan ini dapat memberikan hasil yang baik. Pengembangan usaha pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan di kawasan ini agaknya bisa dimulai dari potensi yang ada di masyarakat sendiri.
3.1. Sumber Daya Perairan dan Perikanan
Kawasan sebelah timur Desa Semangkok adalah kawasan Selat Makassar. Pada awal pemukiman desa terbentuk umumnya masyarakat yang tinggal di kawasan ini adalah nelayan Suku Bugis yang berasal dari Pulau Sulawesi. Meskipun saat ini banyak di antara mereka yang menekuni bidang pertanian dan perkebunan, tetapi pekerjaan sebagai nelayan tidak pernah hilang. Masyarakat yang sepenuhnya masih menekuni pekerjaan sebagai nelayan saat ini banyak bermukim di kampung Bagang.
Nelayan memperoleh ikan dengan cara memancing, menjaring, atau mendirikan bagang di lepas pantai. Mereka menggunakan perahu untuk melaut. Hasil tangkapan yang umum adalah ikan teri dan udang. Beberapa ikan besar yag ditangkap biasanya diperoleh dengan cara memancing. Oleh karena hasil tangkapan nelayan yang cukup baik, di desa Semangkok oleh pemerintah didirikan TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Namun saat ini TPI belum berjalan dengan baik oleh karena lokasinya yang dangkal sehingga tidak dapat digunakan untuk perahu bersandar. Perahu nelayan saat ini masih bersandar di sepanjang kanal akses menuju ke Terminal Santan.
Menurut informasi masyarakat, ada satu masa hasil tangkapan udang sangat berlimpah. Udang biasaya ditangkap menggunakan jaring yang dipasang di sepanjang pantai. Namun hasil tangkapan udang saat ini cenderung menurun. Penurunan hasil tangkapan udang agaknya sejalan dengan kerusakan pantai oleh abrasi dan berbagai faktor lingkungan lainnya. Perlu pengamatan mendalam tentang lingkungan pantai sepanjang wilayah barat desa Semangkok. Kawasan ini seharusnya bisa menjadi sumber pendapatan masyarakat desa.
Lokasi geografis dan karakteristik daratan di Desa Semangkok juga memungkinkan untuk berbagai budidaya perikanan di darat. Secara alamiah saat ini berbagai jenis ikan darat seperti kepiting, ikan gabus, belut, ikan lele, dan berbagai ikan darat lainnya yang masih cukup berlimpah.
3.2. Sumber Daya Pertanian
Kehidupan masyarakat di Desa Semagkok tidak hanya ditopang dari kegiatan di laut. Sudah sejak lama masyarakat di desa ini juga menekuni kegiatan pertanian di darat. Menanam padi sawah sudah sejak lama menjadi keahlian masyarakat di sini. Pengalaman yang panjang mendorong masyarakat untuk mengembangkan teknik bertanaman padi sawah yang cocok untuk lingkungan dan kondisi masyarakat. Salah satunya adalah dengan teknik pengolahan lahan menggunakan traktor, penebaran benih menggunakan sistem tabela, dan penyiangan rumput gulma dengan menggunakan herbisida.
Permasalahan yang muncul saat ini adalah penggunaan pupuk dan obat-obatan yang kurang terkontrol dan dikuatirkan akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Salah satunya adalah penggunaan herbisida yang sangat berlebihan. Cara ini memang bisa dimaklumi karena sulitnya tenaga kerja di kawasan ini. Sangat umum ditemui jika dalam hamparan sawah seluas satu hektar hanya di kerjakan oleh satu sampai dua orang. Di satu sisi, sistem yang dikembangkan masyarakat saat ini sangat menguntungkan dan secara ekonomi memberi hasil yang baik namun jelas membutuhkan biaya produksi yang cukup tinggi. Dengan gambaran itu maka jika seseorang yang memiliki lahan sawah cukup besar tetapi tidak memiliki biaya produksi maka kemungkinan orang itu akan tidak bisa mengerjakan sawahnya. Beberapa pola kerjasama memang sudah banyak diterapkan oleh masyarakat, di antaranya adalah pola bagi hasil atau pinjam lahan. Perlu dilakukan kajian mendalam tentang usaha pertanian padi sawah yang ada di masyarakat saat ini.
Pola pertanian dengan komoditas lain seperti palawija dan sayuran umumnya menggunakan cara yang sama. Sangat jarang ditemui kegiatan pertanian yang menekuni untuk menggarap luasan lahan tertentu dan diusahakan secara intensif. Pola ini sebenarnya sudah ditekuni oleh beberapa orang dengan komoditas sayuran dan memberikan hasil yang baik, meskipun hasilnya hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitarnya saja.
3.3. Sumber Daya Perkebunan
Kawasan lahan tanah daratan dengan kategori tanah kering di desa Semangkok tercatat sekitar 14.000 ha lebih. Meskipun dari penuturan Camat Marangkayu bahwa kawasan itu umumnya termasuk dalam kawasan budidaya kehutanan (KBK), namun kawasan itu saat ini sudah dibuka oleh masyarakat dan direncanakan menjadi kawasan perkebunan. Selain kebun kelapa yang sudah cukup tua yang terletak di sekitar pemukiman desa, aat ini banyak masyarakat yang sudah menanami kebunnya yang terletak jauh di luar pemukiman dengan komoditas sawit dan karet.
Pola yang diterapkan pada budidaya tanaman pertanian juga diterapkan dalam usaha perkebunan. Setelah membuka lahan yang rata-rata lebih dari 2 ha, biasanya lahan langsung ditanami bibit karet atau sawit. Untuk beberapa lama lahan itu dibiarkan dan akan kembali dibersihkan dengan menggunakan herbisida untuk membersihkan rumput dan gulma di sekitar tanaman komoditas. Jika pemilik kebun masih membutuhkan lahan untuk ditanami dengan palawija atau tanaman lainnya seperti pisang atau palawija, biasanya kebun itu akan dirawat seperlunya. Akan tetapi oleh karena kekurangan tenaga kerja, dan berbagai alasan karena serangan hama dan biaya, biasanya sangat jarang lokasi yang sudah dibuka itu dimanfaatkan untuk berkebun tanaman palawija. Tidak jarang kawasan yang sudah dibuka itu terlihat terlantar dengan semak belukar yang tinggi, meskipun di dalamnya terdapat tanaman perkebunan seperti karet dan sawit. Menurut masyarakat, jika ada biaya untuk membeli herbisida dan uang untuk membayar tenaga maka kebun itu akan dibersihkan kembali.
Perlu dilakukan kajian mendalam tentang kegiatan perkebunan rakyat yang sudah berkembang saat ini. Namun pola ini perlu dikaji lebih jauh mengingat potensial konflik yang sering terjadi ketika perkebunan telah berjalan dan menghasilkan.
3.4. Budi Daya Peternakan
Sejalan dengan kegiatan pertanian, masyarakat di desa Semangkok sudah sejak lama juga memelihara ternak. Jenis ternak yang dipelihara masyarakat selain ayam kampung adalah sapi dari jenis lokal atau disebut dengan sapi putih dan sapi bali. Pola pemeliharan ternak sapi mereka dengan cara digembalakan. Hal ini sangat memungkinkan karena lahan penggembalaan ternak sapi masih cukup luas. Tidak semua masyarakat desa memelihara ternak, namun jika seorang memelihara ternak jumlahnya lebih dari dua ekor, atau mereka memelihara bersama-sama dalam kelompok peternakan. Beberapa kelompok saat ini telah mendapat bantuan ternak sapi dengan sistem gaduhan dari pemerintah.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) pada tahun 2009 pernah menyerahkan bantuan ternak sapi dengan sistem gaduhan, yaitu dengan memelihara induk sapi dan setelah beranak pertama anaknya diserahkan kembali ke pemerintah. Bantuan sapi gaduhan yang diserahkan pada masyarakat desa Semangkok saat itu berupa sapi Bali kepada kelompok Al Baqarah Semangkok sebanyak 6 ekor dan kelompok Karya Tanjung Batu Semangkok sebanyak 23 ekor sapi.
Sistem penggembalaan ternak sapi oleh masyarakat dianggap menguntungkan karena saat ini lahan yang tersedia masih luas, peternak tidak perlu menyediakan pakan secara khusus, dengan cara ini peternak tidak perlu menyediakan tenaga dan biaya khusus untuk membuat kandang dan mencari pakan untuk ternak. Kelemahan sistem ini ternyata cukup banyak, terutama yang berkaitan dengan sistem kontrol untuk mencari bibit keturunan sapi yang baik dan pencegahan terhadap hama penyakit. Banyak sapi di daerah ini yang terserang penyakit, di antaranya adalah penyakit cacingan, koreng, dan malnutrisi. Oleh karena pola pakan yang tidak terkontrol, banyak sapi kekurangan gizi, terlihat kurus-kurus dan mudah terserang penyakit.
Pengembangan peternakan sapi di daerah ini memiliki potensi yang besar. Ketersediaan pakan dan padang penggembalaan yang luas memberikan harapan yang besar untuk keberhasilan peternakan sapi dan jenis- jenis hewan peliharaan lainnya. Diperlukan penanganan khusus untuk pengembangan peternakan. Pengembangan diarahkan pada teknik yang baik dalam sistem penggebalaan maupun sistem kandang, pengetahuan dan teknik pembuatan pakan yang baik, serta pengetahuan tentang pencegahan hama dan penyakit. Saat ini di kecamatan Marangkayu hanya tersedia dua orang penyuluh.

4. Epilog
Melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat di desa Semangkok saat ini dapat ditarik gambaran secara umum bahwa secara sosial, politik, dan budaya masyarakat menunjukkan pola partisipasi dengan dinamika yang sangat tinggi. Keterlibatan masyarakat dalam berbagai hal kegiatan yang diselenggarakan oleh desa mendapat dukungan yang sangat kuat. Keterlibatan itu bukan hanya didukung oleh kelompok laki-laki atau kelompok yang berkaitan dengan kegiatan yang berkaitan dengan bidang usaha ang ditekuni oleh masyarakat, tetapi juga kelompok perempuan yang tergabung dalam PKK. Beberapa kali kegiatan yang diselenggarakan untuk ibu-ibu menunjukkan antuasia yang cukup tinggi.
Secara ekonomi, dinamika masyarakat yang tinggi ini menunjukkan bahwa sebenarnya kawasan ini merupakan kawasan yang secara ekonomi mengalami surplus. Meskipun pola produksi yang saat ini berkebang di masyarakat masih sangat sederhana, tetapi penghasilan keluarga dari berbagai sektor kegiatan ekonomi menunjukkan nilai pendapatan yang cukup untuk keperluan kehidupan mereka. Sektor produktif yang berasal dari sumber-sumber oleh karena adanya perusahaan seperti CEVRON, VICO, perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan, jasa, dan bahkan sumber-sumber yang berasal dari dana pemerintah daerah maupun pusat, memberikan dukungan cukup besar bagi kekuatan ekonomi desa. Di sisi lain luasan lahan desa yang cukup besar (sekitar 18.500 ha) dan kepadatan penduduk yang cukup rendah (dengan luas 18.500 ha untuk 3046 orang), menunjukkan bahwa di kawasan ini masih sangat kekurangan tenaga kerja.
Dari pengamatan awal ini juga mencatat, bahwa kegiatan pengembangan masyarakat di kawasan ini selain mendorong kemampuan kapasitas masyarakat dalam hal pengelolaan sumber daya alam secara baik dan mempertimbangkan keseimbangan lingkungan, maka hal yang juga tidak kalah penting dan perlu menjadi perhatian adalah peningkatan kapasitas masyarakat dalam menata pola usahanya, baik di bidang perikanan, pertanian, peternakan, perkebunan, dan jasa. Masyarakat perlu diajak berpikir dan menerapkan pola usaha dengan kepemilikan lahan yang cukup luas sebagai aset usaha, dengan mendatangkan tenaga kerja dari luar. Beberapa anggota masyarakat atas bantuan beberapa perusahaan dari Jawa telah menerapkan pola ini. Di masa datang perlu ada kajian khusus untuk mengembangkan pola ini secara intensif melalui pendekatan kelompok yang sudah ada di masyarakat. Namun sekali lagi, pola ini perlu dikaji lebih dalam agar di kemudian hari tidak menjadi sumber konflik di masyarakat
(SUMBER : BAMBANG RIYADI)

AKU DAN SISWOYO

AKU DAN SISWOYO
Aku dan Sis tahun 1983, waktu pertama kali melakukan penelitian orangutan, Dia meninggal saat melahirkan anak, terlulu sering melahirkan. Biasanya orangutan, jarak kelahiran anak yang satu dengan yang lain 5-7 tahun. Tapi Sis kurang dari 4 tahun. Maklum setiap harii di Camp, badan subur dan jantanpun sering menaksirnya. Saat melahirkan ari-arinya ketinggalan, terinfeksi setelah ditemukan sudah koma. Siswoyo punya anak 3, Siswi, Simon dan Sugarjito.