03 Maret 2009

Cerira Misteri IV

BUNTAT NASI
Tomo warga pendatang di daerah Kalimantan Tengah. Usaha yang dirintis semenjak lima tahun silam, saat ini sudah menampakkan hasil. Usaha dibidang transportasi mulai penyewaan mobil dan “mengojekan” sepeda motor cukup laku. Modal awal pinjaman yang dibelikan satu sepeda motor dan satu mobil mini bus, kini sudah bekembang pesat. Tomo sudah punya 10 karyawan untuk mengawasi usaha transportasinya. Maklum mobil 10 dari berbagai merek dan 25 sepeda motor yang diojekan, harus ada yang megurus setiap harinya.

Keberhasil dalam usaha transportasi dan meningkatkan tarap hidupnya ini, Tomo ingin membuka usaha baru, karena menurut penglihatannya, kota kecil ini masih belum banyak yang menjual pakaian dengan harga yang “miring”. Karena pakaian yang dijual di pasar selama ini harganya 2 – 3 kali lipat harga pasaran di Jawa. “Apa salahnya aku punya hubungan dengan kawan di Bandung yang memiliki usaha tekstil”, gumannya dalam hati. Dalam pikiran Tomo, Bandung banyak sekali pabrik yang membuat pakaian, sepatu, elektronik, harganyapun jauh dibawah pasaran di kota tinggalnya saat ini, yaitu di pedalaman Kalimantan.

Impian itu menjadi kenyataan. Kawan yang ada di Bandung tak hanya sebagai pedagang tekstil, namun juga mempunyai pabrik kecil-kecilan atau “home industry” yang hasilnya cukup laku di pasaran. Persaingan yang ketat di Bandung Odi, kawan Tomo, sangat senang kalau Tomo sahabat lamanya dapat memasarkan hasil jahitannya di pasarkan di luar Jawa, apalagi Kalimantan kota seribu intan dan pulau yang menghasilkan banyak kayu.

Mula-mula Odi menyarankan untuk menyewa sebuah Ruko di tempat yang strategis. Di dekor dengan gaya Cihampelas, yang menarik bagi konsumen. Dinding dihias dekor dengan kayu ramin yang mahal untuk ukuran di Jawa, dan murah untuk konsumen di Kalimantan. Menarik, karena Odi juga mengirimkan tukang khusus untuk mendekor toko untuk mengecerkan barang dagangannya.

Tak sampai satu bulan, persiapan toko sudah selesai. Berbarengan dengan dekorasi tokonya itu, Tomo mengiklankan di gedong bioskop satu-satunya di kota itu. Selain itu dua stasiun radio juga mengiklankan tokonya yang akan segera dibuka. Satu minggu penuh, bioskop dan radio mengumandangkan dan menayangkan toko yang akan segera di buka yang menyediakan pakaian dengan harga super murah.

Seminggu sebelum dibuka, barang dagangan sampai di Pelabuhan. Tomo harus menyewa dua truk untuk mengangkut barang dagangan ke tokonya. Persiapan terus dilakukan. Karyawan yang direkrut sudah dilatih untuk menjadi pelayan dagangannya. Lampu kerlap kerlip dan poster-poster menghiasi dinding, dan sangat menarik untuk kalangan muda. Memang merekalah sasaran utama Tomo untuk memasarkan dagangannya. Karena kebanyakan barang yang dijual sasarannya adalah anak muda.
Seminggu menjelang lebaran tokonya dibuka. Saat yang tepat seperti ini sungguh menakjubkan. Pengunjung berjubel, memilih, mencoba dan kalau cocok langsung membayarnya. Apalagi 2 haru menjelang lebaran, dari pagi hingga malam dipenuhi calon pembeli. Malah pembeli tak hanya membeli 1 atau 2 pakaian, ada yang membeli dagangan super murah itu untuk dijual ke desa pedalaman, tentu dengan harga yang berbeda.

Sehari menjelang lebaran, saat orang sibuk menyiapkan untuk menyambut hari kemenangan itu, toko Tomo kedatangan orang yang aneh. Orangnya masih muda, pakainnya kumal, kotor dan masuk ke tokonya. Fisik pria itu cukup unik. Jari jempol tangan dan kakinya becabang, kalau dihitung mempunya jumlah jari 24. Pelayan hanya melihat tanpa mencegah. Tidak melihat baju atau celana yang ditumpuk pada rak-rak, namun langsung menuju ke kasir, dan langsung bicara dengan istri Tomo yang menjadi kasir tokonya.
“Bu saya mau menukar (menjual) barang-barang ”, kata pria tadi dengan menggunakan bahasa campuran antara melayu dan bahasa pribumi, dan mengeluarkan berberapa batu-batu seprti batu akik dsb.
“Maaf Pak, suami saya sedang ke pasar, saya sendiri tidak tahu batu-batu seperti ini”, jawab istri Tomo yang lugu ini.
Pria itu sabar menunggu, mondar mandir di tokonya, namun tidak melihat sedikitpun barang dagangan yang di jajarkan. Sementara tokonya saat ini tak banyak pengunjung karena memang lagi pada sibuk untuk persiapan lebaran. Biasanya setelah Ashar jam 15.00-an baru mulai ramai lagi.

Setengah jam kemudian, Tomo datang dan langsung menemui istrinya.
“Mas orang itu menawarkan batu, tapi entah aku nggak tahu batu akik atau apaan”, kata istrinya. Melihat ada lelaki yang datang dan ngobrol, pria itupun mendekati Tomo dan menawarkan batunya.
“Maaf pak, saya juga tidak tahu masalah batu-batu seperti ini”, kata Tomo kepada pria tadi.
“Pak urup (tukar) saja dengan celana, untuk lebaran besok”, desak pria tadi.
Tomo merasa iba, melihat keadaan pria tadi, pakaianya yang kotor dan sobek sana sini, akhirnya dikabulkan permintaan oria tadi.
Akhirnya Tomo memberikan 2 celana dan kaos untuk orang tadi. Dan pria tersebut memberikan 2 pasang batu, yang baru pertama kali dilihat oleh Tomo. Orang aneh tadi menjelaskan asal usul batu tersebut.
“Ini namanya buntat nasi, satu pasang pak, lelaki dan perempuan. Batu ini jelmaan dari nasi. Satu batu ditemukan istri saya saat mencuci beras di sungai, dan satu lagi saya temukan berada di perut ikan saat saya mancing di sungai yang sama”, jelas pria tadi. Namun Tomo keheranan, karena ukuran batu nasi itu hampir 3 kali besar ukuran nasi.
“Ya inilah batu nasi gaib pak”, jelas pria tadi. Kemudian dia menambahkan satu pasang batu bulat sebesar kelereng berwarna coklat kehitaman, batu itu di dapat saat dia membelah kayu. “Batu ini berasal dari getah pohon yang cukup tua”, sambungnya lagi.
“Rumah bapak di mana dan ke sini naik apa?, kata Tomo tiba-tiba.
“Rumah saya jauh, kalau naik perahu sekitar seminggu dari sini”, jawabnya singkat.
Kemudian Tomo dengan sukarela memberikan uang seratus ribu rupiah untuk ongkos pulang. Entah cukup atau tidak, karena pria tadi mengatakan lebih dari cukup untuk ongkos pulang.

Setelah membungkus baju dan mengantongi uang, pria tadi berpamitan dan bersalaman. Tomopun kaget melihat jari-jari yang bercabang di setiap jempolnya. Setelah berpamitan, pria itupun keluar dan meninggalkan toko Tomo. Tanda tanya besar di hati Tomo, dan dengan reflek dia menyuruh salah satu karyawannya untuk melihat pria tadi kemana arah perginya, ke pelabuhan sungai yang tak jauh dari toko Tomo. Namun setelah belokan di jalan, karyawan Tomo tak melihat seorangpun pria yang berkunjung ke toko majikannya. Penasaran dicari dan dicari. Belum selang 2 menit, setelah belok, tak terlihat batang hidungnya.

Dengan nafas yang terengah-engah, karyawan Tomo menjelaskan ke majikannya. Bahwa pria tadi tak ditemukan. Maka semakin besar tanda tanya Tomo. Kemudian Tomo memperhatikan dua pasang batu itu, apa khasiatnya dan apa jenisnya. Tak tahu.

Kebetulan Tomo mempunyai kenalan orang pribumi yang memiliki ilmu lebih, supranatural. Dia dapat melihat barang barang yang orang biasa yang dapat mengetahuinya. Apalagi Tomo sangat khawatir dengan mendapatkan barang yang aneh, yang memberikannyapun orang aneh. Takut malah membawa bencana di keluarganya atau paling tidak mengganggui keluarganya terutama anaknya yang masih kecil.

Kenalan Tomo yang mempunyai ilmu lebih tadi juga sangat terkejut. Dan memandang Tomo berulangkali. Tamo ketakutan, jangan-jangan barang ini berbahaya bagi keluarganya.
“Anda sangat beruntung, Belum tentu 1000 orang kami, satu memilikinya. Ini sudah rejeki dan pemiliknya adalah anda” katanya.
Setelah menceriterakan takut ada effek samping terhadap keluarganya, supranatural itu berjanji akan memberikan “makanan” seumur hidup biar tidak mengganggu keluarga Tomo.
“Saya akan membantu untuk “meniduri” benda ini selama 3 jum’at, setelah itu akan saya serahkan kepada anda”, kata kawan Tomo tadi.

Tiga Jum’at berlalu, tak ada kejadian dalam keluarganya dan tokonya. Semua berjalan dengan lancar. Sesuai dengan janji dengan orang pintar kawannya, tomo mendatangi ke rumahnya yang masih tradisional baik bentuk bangunan rumahnya yang terbuat dari kayu ulin maupun bentuk yang mencirikan budaya masyarakat Kalimantan.

“Bukan main hebatnya batu ini. Memang sudah jodoh anda, dan baik untuk pegangan, terutama orang yang berusaha, seperti pedagang ataupun bertani”, jelas orang pintar tersebut. Tomo hanya diam saja. Bathinnya masih penuh keraguan. Antara percaya dan tidak. Karena Tomo yang ta’at ibadah dan sudah haji dengan jerih payah usaha selama ini, hanya Allah semata, Tomo berlindung dan memohon segala sesuatunya.

Rupanya orang pintar tersebut dapat membaca kata hati Tomo. Keraguan antara percaya dan tidak yang berkecamuk dalan bathin Tomo semua diketahui.
“Tak apa Pak Tomo, mungkin ini titipan Allah untuk anda, simpan dan rawatlah. Saya sudah bicara banyak dengan pemiliknya, untuk tidak mengganggu keluarga anda. Bahkan akan membantu semua usaha anda atas ijin Allah”, kata orang pintar tadi. Walaupun bukan umat muslim, tetapi segala sesuatunya seperti do’a selalu di dahului dengan bismillah dan kalimat syahadat. Pernah Tomo menanyakannya, karena sudah seperti sahabat saja, maka tak segan-segan untuk menanyakan dan diskusi masalah tersebut. Jawabannya memang aneh, menurutnya, semua do’a yang dimiliki masyarakat pribumi, merupakan warisan dari kesultanan yang taat akan agama Islam. Sebagian penduduk dan orang pintar ilmu-ilmunya merupakan campuran dari Islam dan bahasa serta kebudayaan lokal.

“Pemiliknya? Siapa Pak?”, tanya Tomo semakin penasaran.
“Yang memiliki dan menjaga barang ini. Tak apa, mereka orang baik-baik”, jelasnya.

Setahun sudah, kehidupan Tomo dengan usahanya berjalan sebagaimana mestinya. Usahanya lancar, baik urusan transportasi dan dagang pakaian. Beberapa kali Tomo harus ke Bandung untuk mengambil dagangan.

Keluarga Tomo pindah ke Jawa, karena istrinya harus menunggui ibunya yang sendirian, semenjak ditinggal meninggal ayahnya 40 hari yang lalu. Usaha di Kalimantan dipegang oleh adiknya yang cukup ulet untuk melanjutkannya. Tak lupa Tomo membawa semua barang, termasuk dua pasang batu pemberian orang misterius. Di Jawa Tomo mengendalikan usahanya, sekaligus cari barang dagangan untuk dikirim ke Kalimantan dengan kapal atau kalau pesanan mendadak menggunakan pesawat.

Kakak sepupu Tomo juga orang “pinter”. Saat-saat senggang datang ke rumah sepupunya untuk ngobrol, dan sesekali menyinggung batu yang dibawanya. Namun aneh bin ajaib, sepupunya ngomong kalau penunggunya menunggu di mobil, karena tak berani masuk ke rumah sepupunya.
“Kenapa mas, kok menunggu di mobil”, tanya Tomo.
“Mungkin belum kenalan dengan temanku, jadi segan”, jawabnya singkat.

Suatu hari Tomo datang ke rumahnya, namun sepupunya belum datang, karena ada urusan keluarga. Yang ada hanya anaknya yang sedang mengaji. Tomo bawa batu, dimasukkan ke dalam botol kecil bekas bungkus film. Tomo duduk sambil baca-baca koran yang ada di meja.

Tiba-tiba, tanpa salam sepupu Tomo masuk dan menegur Tomo.
“Sudah lama nunggu”, tegurnya.
“Eh .. mas, belum”, jawab Tomo singkat.

Tiba-tiba di ruang belakang anak sepupu Tomo, Ihksan, yang sedang mengaji teriak.
“ Pak .. takut, ada dua macan putih. ”, teriaknya cukup keras.
“Nggak apa-apa, itu bawaannya Om Tomo”, jawabnya tenang, Sementara Ikhsan dengan muka pucat memeluk ayahnya, sambil menunjukkan satwa yang menubruknya.
“Nggak apa-apa tenang. Makanya kalau ngaji jagan dekat pintu. Sudah tenang”, rayunya.

Tomo semakin penasaran, ada apa sebenarnya yang terjadi barusan. Kemudian sepupu Tomo menjelaskan kejadian barusan. Bahwa, saat Tomo masuk dan membawa batu tersebut, penghuni dan penjaganya mengikuti masuk. Namun setelah sepupunya masuk denga “teman-teman”nya, penjaga batu Tomo lari, karena takut.
:Kenapa takut mas”, tanya Tomo lagi.
“Mungkin beda kebudayaan, alam atau mungkin ilmunya, sehingga menghindar”, jawab sepupunya.
***
Lama Tomo tidak mengecek batu-batu yang disimpan dalam almarinya, karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan yang banyak menyita waktu. Namun saat Tomo akan pergi ke Kalimantan untuk melihat perkembangan usahanya, dia teringat akan batu itu. Maka diapun mencoba membuka bekas plastik pembungkus film itu. Alangkah terkejutnya, batu-batu yang disimpan itu sudah tak ada lagi di dalamnya. Diapun bertanya kepada istrinya, ibunya. Namun semua tak tahu menahu. “Melihat tempatnya saja tidak”, kata istri dan ibunya.

Kemudian Tomo menghubungi sepupunya. Dengan santainya dia mengatakan bahwa, barang-barang dimiliki Tomo sudah pulang duluan, karena alamnya bukan di Jawa. Sepupunyapun sempat mengatakan, bahwa penjaganya sempat berpamitan kepadanya, namun belum memberi tahukan hal itu kepada Tomo. Kepada Tomo, sepupunya menjelaskan bahwa, barang itu hanya cocok untuk di alam Kalimantan bukan di Jawa, dan sangat bagus untuk petani agar ladang pertaniannya tidak diganggu oleh hama.

Sesampainya di Kalimantan Tomo juga menemui kawan supranaturalnya. Jawabannya sama, dan malah persis dengan sepupunya. Di Jawa bukan alamnya, dan baik untuk petani. Namun kawannya itu menjelaskan, suatu saat kalau itu masih ingin mengabdi ke Tomo, akan kembali lagi. Tomopun menyadarinya, dan tak ambil pusing. Karena sesuatu kalau belum miliknya tak akan lama dimilikinya.

13 Februari 2009

Ceritera Misteri III


LARANGAN SEORANG WALI

Judi Porkas, sempat marak. Tak hanya di perkotaan ataupun pedesaan. Namun juga melanda kamp-kamp di tengah hutan. Para pekerja penelitian yang jauh di tengah-tengah rimba ini, judi “buntut” ini menjadi hiburan setiap minggu. Hari-hari kalau tak ada pekerjaan, orang orang yang sudah “ketagihan” judi ini selalu menghubungkan sesuatu dengan nomor. Mereka hafal benar binatang ini nomornya dalam “buku ramalan” ini, atau seseorang atau mahluk hidup. Seperti raja, permaisuri, pengemis, semuanya mempunyai makna dan nomor tersendiri.

Kadang-kadang lebih gila lagi, mereka siap semedi di tengah hutan, untuk mencari wangsit. Tak ada rasa takut dengan binatang buas, apalagi jin, setan. Mungkin kalau ketemu malah akan diajak bicara dan diminyai nomor.

Adalah Margo, yang sudah bekerja di pusat penelitian hutan ini selama 5 tahun. Bila pekerjaan selesai, dia ambil pulpen dan kertas untuk meramal. Deretan nomor yang keluar dari minggu ke minggu dia punyai. Untuk bahan perbandingan, nomor apa yang keluar. Mungkin nasib Margo belum mujur. Bebrda dengan Uki, yang sering dapat, paling tidak sebulan sekali. Walaupun tak dapat banyak, namun cukuplah untuk hiburan dan kembali modal.

Berbeda dengan Margo yang sudah lupa akan segalanya. Berbgai jalan dia tempuh untuk mendapatkan nomor yang jitu. Suatu kali kawan-kawannya, tidak pulang ke base kamp. Margo bertanya-tanya kepada kawan yang lain. Dan dijelaskan bahwa Uki sering melakukan tidur di tengah hutan. Entah apa yang dikerjakan, namun dalam benak Margo, pasti Uki cari nomor.

Margo mencoba melakukan hal yang sama. Dia diam-diam berangkat ke hutan. Hari itu bertepatan dengan malam Jum’at, dan pas terang bulan. Margo tahu benar seluk beluk hutan, mana pohom yamg amhker dan tidak. Mana pohon yang besar dan kecil. Karena hutan penelitian itu sudah “diubek-ubek” margo setiap hari.

Bebekal dengan obat nyamuk, rokok, kopi yang sudah dimasukkan ke dalam botol dan senter, berangkatlah dia. Dalam benaknya, Margo akan menuju ke pohon kembar. Pohon tersebut tumbuh di tengah hutan dan tidak jauh dengan jalan rintisan. Pohon cukup besar dan ditengah ada ruang sekitar setengah meter, cukuplah untuk duduk.

Pikiran takut sudah hilang, yang ada malam ini akan mendapatkan wangsit berupa nomor buntut. Seusai makan malam bersama, semua karyawan masuk ke kamar masing-masing. Namun masih ada beberapa yang meramal di dapur, saling adu argumentasi dan mencocokan ramalan satu sama lain.

Setelah menyiapkan segalanya, Margo berangkat. Bulan yang baru muncul di timur belum sepenuhnya memancarkan cahaya, sehingga dalam hutan itu hanya remang-remang. Apalagi hutan tropis yang masih lebat, dasar hutan hanya sedikit mendapatkan cahaya bulan. Sesekali didaerah terbuka, bulan nampak terlihat.

Satu jam perjalanan, Margo sampai ke tempat yang dituju. Toleh sana, toleh sani. Senter sana – sini, ke atas entah apa yang dicari. Setelah itu Margo menyalakan obat nyamuk, dan menaburi garam sekitar tempat duduknya, untuk menghindari pacet yang cukup banyak. Rokokpun dinyalakan, dihisap dalam-dalam dan hembuskan ke kanan kiri, sepertinya mengusir nyamuk yang sudah berdatangan.

Setelah minum kopi dan rokoknya habis, Margo alan seorang petapa, mulai konsentrasi. Entah apa yang dibaca. Dia tertunduk dan mata terpejam. Satu, dua jam belum ada perubahan. Margo merasa belum konsentrasi. Akhirnya menyalakan rokok dan minum kopi yang hampir dingin.

Margo melihat jam dengan senter. Jam hadiah dari pimpinan penelitian ini sudah nempel di lengan Margo lebih dari 3 tahun. Jam sebelas tiga puluh, sebentar lagi tengah malam, kata Margo dalam hati. Cepat-cepat rokok dimatikan dan minum lagi kopi yang sudah dingin.

Konserntrasi lagi, dan matanya terpejam. Tiba-tiba bulu kuduk Margo berdiri. Jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Dengan tenang Margo menarik nafas dalam, ditahan, dan dihembuskannya. Lantas Margo membuka matanya. Tahu-tahu di hadapannya sudah duduk seorang kakek tua, yang menggunakan jubah putih dan duduk di hadapan Margo. Margo tak dapat bicara banyak, seolah-olah suaranya berhenti di kerongkongan. Apalagi mau teriak dan lari. Tak mungkin, karena semua anggota tubuhnya kaku, dan mulai mengucur keringat dingin.

“Ada apa anakku?”, tanya kakek burjubah tadi. Setelah ada teguran itu, tubuh Margo seolah-olah mendapatkan energi yang besar dan membuat tenaganya pulih kembali. Tak ada rasa takut.
“Kyai, namaku Margo. Aku ke sini untuk minta nomor kyai. Agar aku bisa memenangkan dan kaya”, jawab Margo singkat.
“Baiklah anakku, kalau itu yang kamu kehendaki”, jawab kakeh itu. “Tapi ada syaratnya anakku”, sambungnya lagi.
“Apa klyai”, tanya Margo.
“Aku akan memberikan satu nomor buntut, sebanyak 4 nomor. Tetapi nomor ini sangat rahasia. Hanya kamu yang tahu, siapapun tak boleh mengetahuinya”, kata kakek tadi.
“Baik kyai”, jawab Margo singkat.
“Ada satu syarat lagi anakku”.
“Apa kyai?”.
“Seandainya kamu tidak diijinkan oleh atasanmu turun ke kota untuk pasang nomor, atau alasan apa saja, kamu tidak boleh memaksakan diri”, tegas kakek berjubah itu.
“Baik kyai”.
“Ingat ini anakku”, kata kakek tadi sambil mengambil ranting dan mencoretkan tulisan di atas tanah. Setelah menuliskan nomor itu, sekejap mata kakek itu hilang. Margo cepat-cepat mengambil kertas dan pulpen yang sudah disiapkan, dan menyalinnya.

Jam 03.00 dini hari Margo kembali ke kamp, suasana sepi. Namun rupanya ada dua orang yang baru pulang juga dari dalam hutan, Uki. Margo sudah menebak, pasti dia juga cari nomor.
“Dari mana kamu”, tanya Margo kepada Uki.
“Dari sungai mancing”, jawab Uki. “Nah kamu dari mana, tumben malam-malam keluyuran”, tanya Uki.
“Nyari buntut”, jawab Margo sambil bercanda.

Tak ada pembahasan masalah buntuk, berhubung mereka langsung menuju kamar masing-masing untuk istirahat. Margo, langsung terlelap tidurnya.

Hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur bagi karyawan proyek penelitian ini. Biasanya mereka digilir untuk istirahat ke kota, sekalian belanja makanan untuk satu minggu. Namun ada beberapa karyawan yang harus tinggal di kamp untuk menjaga. Biasanya mereka ke kota bergilir satu sama lain.

Malam itu penentuan siapa yang harus turun esok hari. Selain evaluasi kerja selama seminggu dan membuat perencanaan kerja seminggu yang akan datang, mereka juga membuat daftar belanja, apa saja yang harus dibeli.
Margo harap-harap cemas, mudah-mudahan diijinkan atasannya untuk turun besok, karena minggu lalu Margo sudah ke kota dan berkunjung ke keluarganya. Menurut hitungan, dia harus tinggal di kamp untuk jaga. Giliran penentuan siapa yang akan belanja dan ke kota, margo dengan memberanikan diri bicara dan angkat tangan.
“Pak, saya besok mau ijin ke kota, ada keperluan penting”, kata Margo.
“Margo, saya perlu kamu besok. Karena hanya kamu yang paham benar tentang tumbuh-tumbuhan di dalam hutan ini. Selain itu kamu minggu lalu sudah istirahat, bukam”, jawab pimpinan Margo.
Margo ingat benar apa kata-kata Kakeh Berjubah Putih malam lalu. “Jangan memaksakan kehendak, seandainya atasanmu tak menijinkan kamu turun ke kota”. Kata-kata itu terngiang benar dlam telinganya. Maka Margo tak membantah perintah yang barusan dikatakan oleh atasannya.
“Baik, pak”, jawab Margo singkat.

Sehari penuh Margo ke hutan dengan pimpinannya. Seorang peneliti tua yang tekun, dia sudah professor, orangnya bijak, kata-katanya sangat dipatuhi oleh semua karyawan. Tak hanya para staff lapangan yang hormat kepada mereka, namun banyak para ahli tumbuh-tumbuhan “berkiblat” kepada hasil tulisan atau penemuan beliau.

Seusai makan malam, beberapa kawan Margo yang tdak ke kota asyik main tenis meja, ada pula yang main musik, dan ada yang bengong melihat dan mendengar kawan-kawannya melakukan permainan itu.

Jam sepuluh Margo masuk kamar, dan purtar radio. Putar sana sini untuk mencari gelombang dan stasiun radio yang biasanya menyiarkan nomor buntut yang keluar. Biasanya ada lagu khas yang berkumandang, sehingga setiap orang akan mendengarkan lagu itu, walaupun diulang-ulang. Bukan karena lagu itu mereka sukai, namun mereka ingin mendengarkan nomor buntut.

Jam 10.30 ada lagu itu berhenti. Kemudian terdengar seorang penyiar mengumumkan nomor yang keluar. Semua buka catatan, kecuali Margo. Karyawan-karyawan ini sudah menitip uang kepada teman yang ke kota untuk beli nomor.

“Pendengar yang budiman, malam ini penarikan nomor Porkas sedang dilakukan. Sekitar lima belas menit lagi kami akan kembali untuk menyairkan nomor yang keluar” demikian kata penyiar.

“Sialan, kiranya mau ngumumin nomor”, kata salah satu pendengar.
“Sabar, sabar dikasihani Tuhan”.
“Mana Tuhan mengasihani kamu, la wong kamu penjudi, pekerjaan itu diharamkan Tuhan”, kata salah stu staf yang tak suka judi
“Diamlah, jangan khotbah”
“Sudah pada diam, kalau ribut saya matiin radionya”, ancam Margo.
“Jangan Mas, kami hanya bercanda”.

Kata-kata haram tadi, menyentuh lubuk hati Margo. Dia sudah lama meninggalkan salah satu rukun Islam, yaitu sholat. Dia termenung dan melihat polah tingkah kawan-kawannya yang serius mendengarkan lagu dengan berbagai ekspresi.

“Saudara pendengar, pemutaran Porkas telah dilakukan. Dan nomor yang keluar malam ini adalah, lima tiga sembilan delapan delapan satu. Selamat bagi yang beruntung”, kata pentyiar radio itu, dan lagu khas Porkos berkumandang lagi.

Semua kawan margo saling mencocokkan, dua atau tiga angka paling belakang. Dan berbagai komentar muncul.
“Sialan nomor saya 991 dan 61, belum rejekinya”, kata kawan yang satu.
“Wah jauh nomor saya, sedikitpun tak nyinggung”, kata kawan yang lain. Hebohlah dalam hutan malam itu. Dan tak ada yang mendapatkan tebakan mingguan itu.
“Habis seratus ribu tak dapat”, teriak yang lain.

Kawan Margo keheranan melihatnya, biasanya sibuk mencocokan, namun malam itu tidak. Margo hanya menjawab, tak punya uang dan tak ada nomor yang bagus.
Setelah kawannya pergi, Margo membuka catatan nomor yang diberi kakek berjubah. Benar tertulis 9881. Ekspresinya biasa-biasa saja, dia sadar dan paham, belum milik dan rejekinya, katanya dalam hati.
“Mungkin kakek itu menyadarkan aku, untuk berhenti berjudi buntut. Lebih baik ditabung untuk kehidupan masa yang bakan datang. Karena setelah lebaran harus sudah punya uang untuk menikah”, katanya dalam Hati. Margo kemudian sholat malam dan bersujud, memohon petunjuk dan ampunan atas dosa yang telah dilakukannya. Dan tak lupa berterima kasih kepada kakek entah siapa, mungkin utusan Tuhan, untuk menyadarkan perbuatan “haram” selama ini yang dilakukan.

12 Februari 2009

Cerita Misteri II



NAFSU DI SIANG BOLONG

Adalah mBak Har, tetanggaku sebelah yang rajin cantik dan pernah menjadi kembang desa di kampungku di pesisir utara Jawa Timur. Pagi dia harus bangun, setelah sholat subuh dia mesti menggoreng makanan untuk dijual dan dititipkan ke warung-warung. Aku sering beli sebelum ke sekolah untuk sarapan. Makanannya macam-macam ada pisang goreng, ote-ote (seperti bakwan), tahu isi, tempe goreng, singkong goreng, ubi goreng dan lontong. Makanan itu suaminyalah, Mas Tarjo, yang mengantarkan ke warung-warung.

Mas Tarjo adalah seorang tukang pandai besi. Badannya tegap tinggi, berotot, dan berwajah ngganteng. Dia juga jadi incaran gadis-gadis di kampungku. Maklumlah sesuai dengan pekerjaanya setiap hari, harus menggembleng plat-plat baja besi untuk dijadikan berbagai barang. Seperti kampak, cangkul, sabit, parang sampai pisau dapur. Petani dan orang-orang di desaku pasti tahu, bahwa alat-alat yang dipakai dengan cap matahari terbit dengan tulisan TARJO, pasti akan puas menggunakan alat itu, karena dijamin kuat dan tidak mudah patah, karena terbuat dari besi baja yang kwalitasnya baik.

Entah mengapa mbak Har terbelit utang, karena kebutuhan sehari-hari. Dia pinjam ke renternir Bu Kar, tetangga satu RT di kampungku. Mbak Har hanya menangis dan minta maaf bahwa hari ini dagangannya tak habis terjual dan penghasilan suaminya mengalami surut, karena pembayaran dagangannya biasa satu bulan baru dibayar oleh pengecer di pasar. Mbak Har hanya bisa menangis, dan berjanji akan membayar seminggu lagi. Bu Kar dengan gaya renternir yang berkuasa di kampung, seenaknya mengatakan dengan kata-kata yang kasar. Dengan tabah keluarga Mas Tarjo menerima kata-kata itu, dan sabar. Mungkin ini ujian dari Illahi.

***
Jam 17.00, biasanya aku selesai memberi makan ayam peliharaanku. Aku memelihara ayam sekitar 25 ekor. Semuanya ayam petelur. Setiap sore atau pagi aku kumpulkan telur-telur itu. Kemudian kalau sudah terkumpul aku bawa ke warung untuk dijual. Hasilnya cukup lumayan untuk biaya sekolah. Memang Pakde ku mengajari untuk berwira swasta, semenjak dini. Dan aku diberi modal untuk memelihara ayam.

Entah kenapa hari itu aku masih betah di kandang ayam belakang rumah pakde ku. Hanya dibatasi dengan pagar bambu belah dan pohon sawo, kandang ayamku berbatasan dengan rumah mbak Har. Aku sering bertandang ke rumahnya dan ngobrol dengan Mas Tarjo.

Menjelah maghrib, terjadi kegaduhan di rumah Mbak Har. Suara orang teriak ketakutan, dan suara genting pecah beberapa kali terdengar. Orang-orang se RT sudah pada berkumpul di halaman rumah. Mereka juga heran siapa yang melempari batu gunung sebesar kepalan orang dewasa. Mereka membayangkan kalau batu itu mengenai kepala manusia, pasti bocor. Namun anehnya batu itu hanya melempari barang-barang rumah tangga, seperti piring, kaca dan genting.

Kejadian itu hanya sekitar setengah jam. Setelah itu tenang kembali. Namun kerugian keluarga Mas Tarjo lumayan juga. Genting bolong, kaca pecah dan piring di rak berantakan. Batu-batu dikumpulkan ada sekitar 15 buah. Hanya saja siapa orang yang tega melempari rumah Mbak Har.

Paginya para pini sepuh, Pak RT dan tetangga berdatangan, karena mendengar kabar rumah Mas Tarjo di”terror” orang. Tapi tak ada bukti yang kuat siapa pelakunya. Warga semua membantu untuk menyelidiki kejadian semalam. Mas Tarjo tak masuk kerja dan Mbak Har tak membuat makanan gorengan. Berita itu menjadi buah bibir orang sekampung, tak hanya kampungku yang membicarakan masalah itu, namun kampung sebelah juga berdatangan sekedar melihat rumah yang dilempari batu oleh “orang misterius” yang belum tahu siapa pelakunya.

Rupanya tak hanya semalam itu saja, dan itu terus berlanjut hingga hari hari berikutnya. Entah berapa genting yang sudah pecah, piring yang hancur. Malah saat tamu makan bersama di ruang depan, tiba-tiba batu sekepal tangan dilemparkan ke nasi yang masih mengepul.

Semakin berjubel orang menonton, karena berita ini rupanya sudah tersebar ke kota pesisir ini. Mungkin juga sudah dimuat di surat khabar, sehingga berita ini tersebar luas. Tak urung para “orang pintar” dikerahkan untuk mengetahui siapa pelakunya. Penonton sudah menebak, pasti pelakunya mahluk halus alias “gendruwo”.

Entah berapa orang sakti yang dikerahkan, tetapi kejadian terus berlanjut setiap maghrib hingga sebelum isya’. Penonton semakin berjubel, dan sebagian membantu meringankan derita Mas Tarjo dan keluarga dengan sumbangan ala kadarnya.

Anak-anak muda yang iseng meneriakkan kata-kata memaki. “Hey jangan jadi pengecut, tampakkan dirimu. Jangan menggangu orang susah”, teriaknya. Apa balasannya. Lebih dari dua keranjang sawo dilemparkan ke penonton. Dan orang-orang berlarian menyelamatkan diri, ke rumah sebelah. Namun “si peneror” mengejarnya dengan melempar sawo dan batu ke arah mereka, malah rumah Bu Ina kena sasaran, genting pecah. Sesepuh dan para kiai menyarankan untuk tenang, jangan sampai merembet ke rumah tetangga. Namun anehnya, serangan ini tidak mengenai seorangpun, hanya samping kanan, kiri atau belakang orang. Namun orang juga takut, batu sebesar itu tiba-tiba “bug..” di sisinya yang hanya berjarang kurang dari 5 senti dengan kaki, siapa yang nggak ngeri, komentar beberapa penonton.

Entah sudah berapa hari kejadian terus berlanjut. Akhirnya para penonton melihat seorang “orang pintar” berkelahi, tapi tanpa musuh. Mungkin hanya dia yang melihat, sedangkan masyarakat tua, muda yang memadati halaman dan kebun rumah mbak Har hanya pak Kiailah yang nampak. Bagaikan seorang penari silah Cimande yang memperagakan tarian indah dari seni bela diri ala Jawa Barat itu.

Jungkir balik, bergumul di tanah di bawah pohon sawo. Terus dan terus berkelahi di kegelapan malam, hanya ada sinar lampu petromak yang dinyalakan. Perkelahian itu sesekali penonton dihujani buah sawo yang masih muda, termaksa kami menjauh dari tontonan perkelahian itu. Mulai perlahan gerakan pak Kiai, dan setelah pelan-pelan lantas dengan cepatnya pak Kiai lari, seperti mengejar dan menjauh ke arah pahon kluwih di sebelah barat kandang ayamku.

Kemudian Kiai yang masih muda itu datang, dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Dan dia berucap, insyaallah tak mengganggu kita lagi. Kami semua hanya berucap, amin.

Dua minggu semenjak perkelahian itu, memang aman. Tak ada lagi gangguan mahluk halus lagi di rumah keluarga Mas Tarjo. Pekerjaan keluarga sederhana itu berjalan seperti biasa. Mbak Har dengan gorengannya setiap hari semakin laris. Barang kerajinan besi Mas Tarjo laku keras di pasar desa. Semua berubah, hasil yang didapat untuk memperbaiki rumah yang hancur dan mengembalikan pinjaman pada Bu Kar.

Pagi hari setelah selesai pekerjaan menggoreng dan menitipkan barang dagangan ke suaminya, Mbak Har beres-beres dapur dan siap mengantar anaknya yang masih kelas satu SD yang jaraknya tak jauh dari tempat tinggalnya. Sepulang mengantar anak sekolah, suaminya sudah ada di kamar sedang tiduran. Mbak Har kaget.
“Kok sudah puling mas, tumben”, tanya mbak Har singkat.
“Ya”
“Sudah mampir ke warung-warung, ambil dagangannya”
“Sudah” jawabnya singkat.
“Mana uangnya”, tanya mbak Har lagi.
“Belum”
“Belum gimana”, tanya mbak Har semakin marah.
“Nanti”.
“Nanti kapan Mas”, bentak mbak har keras. Takut kalau “penyakit’ suaminya kambuh lagi, yaitu main judi kopyok, karena kejadian ini sudah pernah terjadi beberapa tahun silam, sehingga dagangan mbak Har ludes ludes untuk main, sehingga mencari pinjaman ke renternir.

Tiba-tiba suaminya mendekap dan minta dilayani dengan paksa. Mas Tarjo cepat membuka baju mbak Har, seperti kesetanan. Namun karena Mbak Har masih dongkol dengan kelakuannya, berusaha mempertahankan diri. Dan terus melawan serta memukul suaminya denga guling, dan memukul sejadi-jadinya, sambil menyebut nama Allah. “ Allahuakbar, kenapa jadi begini, habis minum apa kamu ya?, teriak mbak Har sekeras-kerasnya..

Pak Jono tetangga sebelah yang biasa menggembala kambing di lapangan, mendengarkan teriakan itu. Tapi serasa aneh, Mbak Har yang jarang marah tiba-tiba teriak. Pak Jono kemudian memanggil istrinya, untuk melihat apa yang terjadi di rumah Mbak Har.

Mbak Har yang kalang kabut mengamuk, tak kalah galaknya dengan suaminya itu tiba-tiba kaget bukan kepalang. Tiba-tiba suaminya itu berubah wujud dan menakutkan, sekejap. Mbak Har teriak keras minta tolong dan ingin lari, namun tak kesampaian. Suara hanya berhenti di tenggorokan, dan larinyapun hanya jalan di tempat.

Setelah Pak Jono dan istrinya masuk ke kamar mbak Har yang hanya disekat dengan dinding bamboo serta penyekat kain, mereka berteriak memangggi nama Mbak Har. Setelah ada suara itu, Mbak Har sadar dan bisa keluar dari kamarnya, terus mendekap Bu Jono. Tapi masih belum bias bicara.

“Ada apa Har” kata Bu Jono.
Masih juga belum bisa bicara. Pak Jono mengambilkan air putih, dan meminumkannya. Tak lama Mbak Har lemas dan masih ada rasa takut yang luar biasa. “Nyebut Har, nyebut nama Allah” kata Pak Jono menasehatinya.

Akhirnya bisa bicara, dan beberapa tetangga yang juga mendengar kejadian itu berdatangan. Mbak Har yang sudah biasa bicara namun masih patah-patah, menceriterakan kejadian sebenarnya. Apa yang dialami baru saja. Salah satu tetangga berinisiatif untuk menjemput suami Mbak Har. Setengah jam kemudian datang Mas Tarjo dengan sepeda “lanangnya” – sepeda khusus untuk lelaki”.

Mbak Har menatap tajam suaminya, dari rambut, muka hingga kakinya. Mas Tarjo juga aneh memandang istrinya seperti itu. Kemudian mbak Har memanggil. Mas, kamu Mas Tarjo beneran.
“Ya, Har aku Tarjo, bapaknya Ranti”, jawah Mas Tarjo, karena di sepanjang jalan dia sudah dapat ceritera dari Agus anak Pak Jono yang menjemputnya.
Mbak Har, lantas menubruk suaminya, dia yakin ini suaminya yang asli. Karena pertanyaannya juga tidak hanya satu kata, sorotan matanya tajam tidak menakutkan dan membawa kedamaian. Dan suaminya membelai, rambut panjang Mbak Har yang menangis terisak karena ketakutan.
Dengan wibawanya seorang kepala rumah tangga Mas Tarjo berkata, “Sabarlah, ini cobaan dari Allah. Untunglah kamu segera ingat kepala Sang Kholik, sehingga kamu terhindar dari perbuatan terkutuk dari syetan yang menjelma menyerupai aku”, kata Mas Tarjo tersendu.

Kami tetangga juga ikut sedih, takut. Apalagi beberapa waktu lalu, gendruwo itu lari ke pohon kluwih dan tinggal di pohon sawo dekat rumahku.

Kejadian itu juga menyebar ke RT, lama kelamaan kampung dan kota. Serta menghubungkan dengan kejadian rumah Mbak Har yang “dikrutuki”, dilempari bebatuan dan buah sawo beberapa waktu lalu.

Pak Kiai yang berusaha mengusir mahluk halus datang lagi. Sebenarnya dia sudah tahu dan melihat serta piaraan siapa atau suruhan siapa “gendruwo” ini mengganggu rumah keluarga Tarjo. Namun dia tak mau berprasangka buruk, atau jangan sampai orang yang memelihara dan menyuruh itu, dihakimi masa karena merasa kesal dan telah menggangu ketertiban, keamanan serta menimbulkan rasa takut masyarakat.

“Har..”, kata Pak Kiai lirih.
“Ya, Pak “, jawab Mbak Har singkat.
“Hutang kamu sudah lunas”.
“Hutang apa Pak”
“Itu, pinjaman ke Bu Kar”, tanya Pak Kiai lagi.
Mbak Har dan Mas Tarjo, tidak langsung menjawab, dari mana dia tahu dan apa hubungannya dengan kejadiaan beberapa waktu lalu. Mbak Har langsung menjawab tanpa ragu lagi, bathinnya mengatakan Pak Kiai orang pintar, pasti tahu apa yang terjadi dan penyebabnya.
“Sudah Pak, lunas semua”, jawab Mbak Har mantap.

Lantas Pak Kiai yang juga memimpin sebuah pondok pesantren itu dengan sabarnya menasehati keluarga Mas Tarjo. Bersabar dan tak usah dendam dengan kejadian itu. Semuanya itu atas suruhan Bu Kar, dia peliharaan Bu Kar. Tapi saat ini sudah meninggalkan rumahnya. Dan kembali ke asalnya, yaitu tempat Bu Kar meminta pesugihan. Karena merasa tidak diperlakukan dengan perjanjian yang telah disepakati saat-saat Bu Kar meminta pesugihan itu, maka peliharaan sebelum pergi, berusaha mengganggu kalian.

Mas Tarjo dan istrinya diam. Iman yang mulai tumbuh dalam hatinya mengatakan, kesabaran dan memaafkan adalah perbuatan yang sangat dicintai Allah. Maka nasehat Pak Kiai itu diterima dengan lapang dada.

Namun sepandai-pandainya menyimpan terasi, akan tercium juga. Kejadian yang aneh muncul di desa itu, terutama keluarga Bu Kar. Malam hari sekitar pukul 10 malam, rumah terbakar, dan menghanguskan seluruh harta bendanya, hanya baju yang menempel dibadannya Bu Kar dan Suaminya. Karena anak mereka jauh di luar Jawa sana.

Setelah kejadian itu dan Bu Kar pindah ke luar Jawa, masyarakat mengetahui, bahwa kejadian yang menimpa keluarga Mas Tarjo adalah ulah Bu Kar.

Kota Pesisir Jawa Timur, 1975.

10 Februari 2009

CERITERA MISTERI

CINTA DAN JANJI
Namanya Pak Bowo, guruku. Dia mengajar Bahasa Inggris di sebuah SMP swasta yang tidak terkenal, dan aku belajar di sekolah itu. Sekolahnya tak megah, nampak dari jauh seperti gudang. Memang sekolah ini dulunya adalah gudang garam, untuk menampung garam sebelum dikirim key kota lain. Maka banyak orang menyebutnya SMP Gudang Garam.

Lokasi dibilang ramai juga bisa, karena dekat dengan pasar dan stasiun. Bisa dibilang lokasinya angker, karena dibelakang sekolahku itu adalah kuburan umum.

Pak Bowo orangnya cukup ganteng, putih bersih dan tentunya banyak gadis yang suka sama dia. Hidup sendiri, di rumah kos dan kebetulan dekat dengan tempat kosku. Aku sering berkunjung key rumah Pak Bowo. Karena dia ramah dan tak membedakan mana murid yang pinter dan yang kurang. Malah aku sering minta diajari bahasa Inggris, karena aku kurang nilainya bila ulangan dilakukan.

Suatu hari di malam minggu Pak Bowo keluar, dengan sepeda onthelnya. Maklum waktu itu masih belum banyak yang punya sepeda motor. Tahun 70-an sepeda motor masih menjadi barang mewah di kotaku yang kecil dan minus di pantai utara Jawa itu. Selain itu gaji guru juga tak seberapa dan tak cukup untuk membeli kendaraan bermotor.

Aku tak tahu persis mau kemana, Pak Bowo malam itu. Yang jelas setiap Sabtu malam dia keluar, mungkin ngapel ke tempat pacarnya. Entahlah, bukan urusanku.

Malam itu kebetulan terang bulan. Aku keluar dengan kawan-kawan kosku. Biasanya terang bulan purnama seperti ini, banyak orang nongkrong di pantai. Sambil memandang laut yang indah. Dan dikejauhan sana terlihat kelap kelipnya perahu nelayan yang melaut.

Kadang-kadang ada juga orang yang mincing. Dengan melemparkan kailnya key laut, dan menunggu ikan memakan umpan itu.

Malam itu cukup ramai di pantai bekas pelabuhan ini. Pelabuhan ini menjorok ke laut, dan dibuat sedemikian rupa agar perahu nelayan atau perahu saudagar mudah untu berlabuh. Pelabuhan ini sangat bersejartah. Konon khabarnya banyak kapal saudagar Cina yang mendarat di pelabuhan ini. Memanjang menjorok ke tengah laut. Dan orang menyebutnya Boom.

Secara tak sengaja aku ketemu Pak Bowo, sedan makan bakso di kios dadakan, atau warung tenda yang buka di malam hari. Aku tak menegor, karena tak enak, dia sedang asyik dengan teman wanitanya. Ah .. mungkin pacarnya, dalam hatiku berkata. Aku terus mengayuh dan mengayuih sepedaku semakin dalam memasuki pelabuhan.

Aku termenung, bertumpang dagu dan duduk di boncengan sepeda jengkiku, entah apa yang aku pikirkan saat itu. Ombak silih berganti dating dan pecah di bebatuan pelabuhan. Kawanku diam memandang lautan. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan tepukan di pundakku.
“ Ed, lagi ngapain, ngelamun”, sapanya.
“Enggak, lagi ngeliat kapal yang jalan di tengah lautan itu lho” jawabku. Dan aku menoleh, alangkah kagetnya aku, yang menegur adalah Pak Bowo.
“Ed, ini kenalin mbak Nita, guru bahasa Indonesia di SMI Negeri satu” kata Pak Bowo. Aku mengulurkan tangan dan menyalami Ibu Nita.
“Saya Edy, murid Pak Bowo, kebetulan satu kos-kosan”, aku menjelaskan kepada Ibu Nita, yang ternyata cantik juga, di remang-remang sinar rembulan.
“Koq tahu saya Pak “, tanyaku key Pak Bowo.
“Sepedamu, dan kaosmu yang jarang orang punya, gambar monyet”.

Angin laut hangat bertiup, kami berempat mengobrol ngalor ngidul entah kemana. Dan akhirnya Pak Bowo dan Bu Nita pamit duluan, aku dan kawanku masih asyik menikmati indahnya malam di pantai ini.

Jam sebelas malam kami sampai di rumah, Pak Bowo belum nampak sepeda “onthelnya”, karena biasa di simpan di garasi sebelah kama. Aku, key ruang tengah menonton film akhir pekan yang di putar TVRI, bergabung dengan teman kost yang lain.

Setenhah jam kemudian terlihat Pak Bowo kembali dan menyimpan sepeda. Biasa dia suka membunyikan bel “kring ..kring .. “ untuk minta dibukakan pintu. Mak Pinah yang kebetulan belum tidur, menolong membukakan pintu Pak Bowo.

“Belum pada tidur”, Tanya Pak Bowo ke kami yang masih menonton film.
“Belum, pak” Jawabku singkat.
Dia lantas masuk kamar dan entah apa yang dilakukan aku tak memperhatikan. Yang terdengar hanya membuka pintu dan setelah itu tak ada suaranya. Mungkin kecapaian.

Minggu pagi, kami biasa sholat shubuh berjamaah di mushola yang jauh dengan kost kami. Pah Haji Akhmad yang menjadi imam saat itu. Setelah itu kami, olah raga lari pagi keliling kota, yang jaraknya tak lebih dari 5 kilometer.
Di jalan itulah Pak Bowo ceritera, atau minta pendapat, tentang Ibu Nita.
“Cantik koq, Pak” jawab saya singkat.
“Bukan masalah itu, aku mau minta tolong. Sore ini kamu mau kemana?”
“Boleh pak, saya nggak kemana-mana. Apa yang bias saya Bantu?”, tanya saya sambil nafasku terengah-engah.
“Setelah ini tolong ambilkan mesin ketik ke rumah Mbak Nita, karena aku mau jemput pamanku yang dating dari kampung, ingin menengok bibi yang sedang di rawat di rumah sakit. Karena mbak Nita mau ke luar kota nanti jam 10-an”, jelas Pak Bowo.
“Siap pak”, jawabku singkat.

Sesampainya di rumah kos, aku mandi dan makan pagi, terus key rumah Bu Nita, dan sebelumnya menanyakan alamat yang tepat. Dengan menggunakan sepeda jengki kesayanganku, akau berangkat mengayuh sepeda. Jarak dari rumah kos ke Bu Nita tak terlalu jauh, sekitar 4 kilometeran.

Tak mengalami kesulitan, mencari rumah Bu Nita. Setelah mengetok pintu, tak berapa lami, iapun keluar. Wah cantiknya Bu Nita. Aku mau diajar dengan guru yang secantik ini. Kemudian aku menjelaskan maksud kedatangaku ke sini, atas perintah Pak Bowo untuk mengambil atau meminjam mesin ketik. Karena Pak Bowo akan membuat soal untuk ulangan harian esok hari.

Tak banyak cakap. Bu Nita mengambilkan mesin ketik mungil. Dan sudah dimasukan ke dalam tasnya. Tak lama akupun pamitan, karena beliau akan segera key luar kota. Dia hanya titip salam untuk Pak Bowo.

Selama dalam perjalanan, aku tak membayangkan. Mungkinkah ini yang namanya pacara, atau cinta. Aku belum tahu karena masih ingusan, paling cinta monyet. Maklumlah seumurku masih bocah yang masih senang main. Hanya lagu lagu cinta yang aku ketahui, dan aku nyanyikan sepanjang jalan sambil mengikuti irama ayuhan sepeda.

Pak Bowo sudah berangkat jemput pamannya dan mungkin key rumah sakit untuk “membesok” bibinya yang dirawat di rumah sakit.

Senja, sebelum Magrib, Pak Bowo datang, dan mengucapkan terima kasih. Aku sampaikan pesan “salam” dari Bu Nita. Entah apa yang terbayang di wajah Pak Bowo saat itu, karena saat saya menyampaikan salamnya, terlintas di wajahnya, merah dan menatapku dalam-dalam. Dan sekali lagi dia mengucapkan terima kasih.

Ketika aku sedang belajar, dan menyiapkan buku untuk esok hari, Pak Bowo masuk key kamar ku. Dia menanyakan Bu Nita berangkat jam berapa. Aku jelaskan, saat aku tiba dirumah dan mengambil mesik ketik, beliau sudah siap untuk berangkat, kira-kira jam 09.00.

Jam 21.00 saat kami semua menonton Dunia dalam Berita TVRI, Pak Bowo tak nampak. Mungkin capai dan istirahat di kamarnya. Namun terdengar suara orang mengetik. Wah, lagi bekerja pikirku. Akau dan kawan kos masih asyik melihat berita manca negara.

Esok pagi sekitar jal 05.00 lebih sedikit Pak Bowo masuk ke kamarku, dan mengajak key kamarnya. Dia menunjukkan kertas merah muda yang ada di mesin ketik. Aku juga kaget, pada hal mesin ketik itu saat aku bawa tak ada kertas, karena aku sempat perikasa. Dan Pak Bowo belum sempat membuka, karena dia akan mengetik setelah sholat Shubuh untuk membuat soal ulangan harian.

Pak Bowo berusaha menenangkan diri, ah mungkin Bu Nita sengaja menyelipkan kertas itu tanda cintanya kepada Pak Bowo. Dan akupun begitu, mungkin aku kurang telita saat membuka. Pak Bowo melanjutkan pekerjaannya, dan kertas itu di simpannya di atas meja.

Jam 06.30, kawan sekelasku mampir key tempat kos, karena sejalan, kami sering boncengan sepeda. Namun kedatangan kawanku tadi juga membawa berita. Bahwa tetangganya yang guru di SMP Negeri I semalam mengalami kecelakaan meninggal, saat ini jenazahnya sudah tiba di rumahnya subuh jam 04.30 tadi. Aku bertanya siapa namanya, dengan singkat kawanku tadi menjawah “Bu Anita Kusumaningrum”. Jantungku berdetak semakin kencang, pandanganku melayang dan membayangkan kertas merah jambu yang ada di mesin ketik dan suara orang mengetik, sekitar jam 21.00-an.

Aku memberanikan diri memasuki kamar Pak Bowo yang sudah siap untuk berangkat. Dan aku menatapnya, serta melirik kertas merah jambu tadi.
“Ada apa Ed?” tanya Pak Bowo singkat.
Aku tak dapat berkata, hanya melihat dan ingin mengetahui tulisan yang ada di dalam kertas merah jambu itu. Pak Bowo mengambil kertas merah jambu dan membaca dengan seksama.

“Bowo, aku pergi dulu ya sayang. Aku mencintaimu, tetapi aku harus pergi jauh. Dan pasti kita akan bertemu suatu saat nanti.”

Love, Anita Kusumaningrum.

“Pak, teman saya datang dan memberi tahu bahwa Bu Anita kecelakaan dan .. dan ….”, kataku lirh dan gemetar, dan untuk mengatakan yang sesngguhnya tiba-tiba berhenti dan tak tega untuk mengeluarkan kata tersebut. Namun dilihat dari wajah Pak Bowo nampak kekagetan yang luar biasa..
“Apa?” …
Pak Bowo lantas duduk di kursi kerjanya, dan mengamati dengan seksama kertas dan tulisan itu. Dia mengira tulisan itu hanya pesan saat dia pergi.

Selama menuju ke rumah almarhumah Bu Nita, aku ceriterakan kejadian semalam saat ada suara orang mengetik. Tapi Pak Bowo tidak bekerja malam itu, dia tidur lelap semenjak pk 20.30. Mungkin Bu Nita pamitan saat meninggal dunia, karena cintanya dan janji akan merencanakan persiapan pernikahan dua bulan mendatang.


Pesisir, 1974

BENDERA SETENGAH TIANG

Oleh : Edy Hendras Wahyono.
Ngadimun masih memandang bendera yang dipasang di halaman rumahnya yang sempit di sebuah desa pinggiran hutan itu. Dia ingat benar kakaknya Ngadiman saat merobek bendera merah putih biru, benderanya kompeni, yang dirobek warna biru dengan arit alat untuk mencari rumput, sehingga hanya merah putih saja yang ada. Dengan merobek bendera itu, dua kawannya tertembus peluru, dan Ngadiman lari pontang panting memasuki hutan dengan hujan peluru yang mendesing. Tuhan masih melindungi nyawa Ngadiman, karena terperosot ke tebing, dan para kompeni mengurungkan untuk mengejar, ekstrimis-ekstrimis itu.

Ngadimun ingat juga, ketika dengan aritnya, memutuskan jembatang bambu yang melintas ke desanya, yang melintang Kali Gede dan menghubungkan dua tebing yang menuju ke Desa Gondang Legi, agar para pejuang yang bermarkas di desanya selamat. Kemudia lari pontang-panting untuk memberikan berita kepada komandan Mardi agar bersembunyi di hutan sebelah, karena kompeni telah mencium markas persembunyian.

Maka tak salah kalau Ngadimun mengibarkan bendera setengah tiang, saat kakaknya Ngadiman meninggal dunia, karena penyakit yang menyerang tubuhnya yang kerempeng, kurus kering, tak terurus, karena keadaan di desanya yang benar-benar minus. Ngadimun menganggap kakaknya seorang pahlawan sejati bagi keluarga, yang menyelamatkan keluarga, desa dan negaranya saat itu yang sedang mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik tercinta ini.

Anak-anak muda yang berlalu lalang melewati rumah Ngadimun, mungkin terheran-heran. Tak ada pengumuman di televisi, di radio ataupun di surat kabar, bahwa hari ini ada seorang pahlawan yang meninggal dunia. Atau bukan pula memperingati hari besar nasional, atau hari berkabung nasional, namun di rumah gubug reyot terkibar bendera setengah tiang, dengan bendera merah putih yang sudah lusuh, dan ukurannyapun tidak simetris sesuai dengan aturan yang ada.

“ Pak De, ini beras titipan emak, untuk selametan 3 harinya Pak De Ngadiman nanti malam”, sapa Jasmin keponakannya yang membubarkan lamunan Ngadimun mengenang kakaknya yang tercinta yang meninggal hari Sabtu Wage, 2 hari yang lalu.

“ Oh iya Jas, nanti malem pada datang kan. Yasinan mendoakan Pak De mu semoga arwahnya mendapatkan tempat yang layak sesuai dengan amal dan ibadah nya”, jawab Ngadimun.

“Wah ya jelas pak de. Malah Bapak nanti malam mau ngajak Pak Lik Ngadiyoyang kebetulan hari ini datang juga, dan teman-temanya seperti pak ustadz guru ngaji saya dulu waktu masih sekolah rakyat”, jawab Jasmin.

“Syukurlah” jawab Ngadimun singkat.

“Pak De, Pahlawan siapa yang meninggal hari ini, kok mengibarkan bendera setengah tiang”, Tanya Jasmin sambil mengamati bendera merah putih yang lusuh itu.

“Ya Pak De mu Ngadiman to le. Dia itu kan pahlawan sejati bagi keluarga kita, desa kita, mungkin malah negeri kita.” jawabnya singkat sambil berdiri dan menghampiri tiang bendera yang diikat di pagar bambu yang reyot itu.

“Coba perhatikan. Bendera ini menelan korban dua orang teman ngaritnya pakdemu Ngadiman. Masíh ada sisa sobekan biru, bendera kompeni. Warna biru disobek, dan tinggal dua warna merah dan putih saja”.

‘Tapi Pak De, seorang pahlawan kan harus ada pengakuan dari negara, pemerintah atau anggota DPR”, tanya Jasman dengan lugunya.

“Aku nggak peduli dengan pengakuan mereka. Kalau masyarakat desa ini, pemerintah negeri ini, atau anggota dewan yang duduk di Jakarta sana nggak mengakui, tak apa. Tetapi hati yang paling dalam dari pak De mu ini, mengakui, bahwa Pak De mu Ngadiman adalah seorang pahlawan. Seorang yang banyak jasanya. Tidak perlu dikubur di Taman Makam Pahlawan, tidak perlu surat keputusan, tidak perlu tanda jasa. Tapi Pakde mu berjuang tulus ikhlas. Sebagai tukang ngarit yang kerjaannya mengumpulkan rumput, mengembala kambingnya ndoro sinder dan mengetahui ada kompeni yang memusuhi pejuang, rasa patriotnya tiba-tiba muncul untuk menyelamatkan pejuang”, Ngadimun berhenti sejenak dan duduk kembali di bangku reot sambil mengeluarkan tembakau dan klobot untuk membungkus, dan menyalakan api, dan menghisap dalam-dalam.

Jasman yang putus sekolah rakyat dan kini hanya bekerja sebagai pesuruh di sekolah dasar negeri satu-satunya di desa itu, hanya duduk diam. Jasman yang biasa menaikan dan menurunkan bendera tak ada perintah dari kepala sekolah untuk menaikkan bendera setengah tiang, oleh karena itu Jasman, ingin tahu mengapa Pak De Ngadimun, sejak meninggalnya Pak De Ngadiman, memasang bendera setengah tiang.

“Jas ….”, kata Ngadimun memecahkan keheningan sejenak. “Masíh banyak Ngadiman-Ngadiman di negeri ini. Dari ujung barat hinggai timur, yang mengalami berbagai peperangan untuk mempertahankan negeri ini. Mereka hidup tak terurus, apa adanya. Nasibnya macam-macam, dan hidupnya serba kesusahan. Tapi Pakde mu tegar, jiwa pejuangnya masih tersimpan di dalam dada, pantang menyerah untuk mengarungi hidup ini, Pakde mu tak pernah membuat surat atau permohonan agar diakui menjadi pejuang. Walaupun tak ada tanda jasa, pengakuan dari negara, tapi dia tetap hidup dan berjuang untuk menyambung nyawa demi sesuap nasi”, kata Ngadimun berapi-api. “Pak De mu Ngadiman juga demikian, walau sebagai tukang ngarit sepanjang hidupnya, hingga mengakhiri hayatnya, masih mencari rumput, menghidupi ternak peliharaan orang, dia pantang menyerah, hanya untuk sesuap nasi, bertahan hidup”.

Jasman tak terasa menitikkan air matanya, mengenang nasib para pejuang seperti Pak de nya, yang sehari-hari membawa keranjang rumput ke pinggir hutan yang semakin menyempit. Karena dibabat diambil kayunya, dibuat ladang dan perkebunan. Pernah sekali bertemu seminggu sebelum meninggal, Pak De Ngadiman yang masih memperlihatkan raut wajah yang keras, pantang menyerah, walau jalan tertatih tatih karena ditelan usia, mengatakan, bahwa jaman dulu, tak pernah ada banjir dan tanah longsor di desa ini, karena hutannya aman, Seperti Kali Gede yang dulu jernih, kemarau dan musim hujan tak pernah kering dan banjir. Namun kini, kali yang merupakan hulu Waduk Kedungombo itu kering kerontang, dan yang nampak hanya batu cadas yang mencuat, sedangkan pasir dan batunya lenyap digali dan ditambang.

“Sudahlah Jas, sana ke sekolah. Anak-anak penerus negeri ini yang akan menimba ilmu sudah terlihat berangkat. Nanti kamu kesiangan. Cintailah pekerjaanmu. Kamu juga seorang pejuang yang setiap pagi menyiapkan segalanya untuk anak-anak belajar. Dan guru-guru itu yang memberikan ilmu.”, perintah Ngadimun kepada keponakannya Jasman.

Ngadimun memandang, keponakan satu-satunya yang betah tinggal di desa ini, mencurahkan tenaga dan pikiran untuk desa yang jauh dari keramain kota. Jasman mencium tangan Pakde nya, dan mengucapkan salam, sebelum melangkah menuju ke sekolah.

Dan, Jasman diluar kesadaran saat menaikkan bendera merah putih. Setelah dikerek sampai ujung atas, kemudian menurunkan kembali setengah tiang. ”Aku menghormati Pak De ku yang meninggal. Kalau ada orang yang bertanya, mengapa setengah tiang. Aku akan menjawab, seperti apa yang telah dijelaskan Pak De Ngadimun, Bahwa pakde ku Ngadiman tiga hari yang lalu meninggal, dan tak ada yang peduli siapa sebenarnya Pak De Ngadiman”, katanya lirih dalam hati.

04 Februari 2009

Bekasi sets example for good water sanitation


The Jakarta Post , Jakarta Mon, 08/06/2007 12:41 PM Jakarta
The Jakarta Post, Jakarta

Residents from Wangkal village in Bekasi have turned their personal story of poor sanitation, disease and death into a theatrical production to help highlight for others the importance of using clean water and living a healthy, hygienic existence.
""We used to defecate outside in cans and drink water from a shallow pit,"" said Rohayah, one of the production's cast members. ""We would wash our vegetables and do our laundry in the same water,"" she said.

Rohayah said people from her village had previously been oblivious to the importance of clean water, or just believed it was a luxury they could not afford. But she said their combined ignorance often saw her fellow villagers suffer diseases caused by poor sanitation, including diarrhea and skin infections. Rohayah and company's play illustrates how the villagers eventually learned the importance of good hygiene through aid and education provided non-government organization USAID and a charity foundation run by Coca Cola.

Rohayah said she and her fellow villagers had learned to improve their quality of life by changing their attitude toward sanitation. Their theatrical production is part of a program called Love the Water, a joint initiative between USAID and the Coca Cola Foundation.

The educational production focuses on water conservation and uses previous unhygienic practices in Bekasi as an example of what not to do. The production was held Sunday in Menteng Park, Central Jakarta. USAID's head of water and conservation Alfred Nakatsuma said the program was focused on Bekasi but the play was intended to inspire all people, including Jakartans, to become more aware of their own health.

Environmental researcher with the foundation Edy Hendras said the rivers in Bekasi were all in a very poor condition compared with rivers in Jakarta. He said water from Bekasi's rivers was still unsuitable for human consumption because of the very high levels of factory waste.
Edy said proper wells could help filter the waste from the river water, but not all residents could afford the required infrastructure.

The water education program would also include the construction of public toilets, an educational campaign for school students and overall improvements to existing wells. The environmental non-governmental organization WWF said in 2006 Bekasi had about 3,000 factories, most of which were dumping waste into the river system. Poor sanitation and dirty water combined with the Betavi villager's overall poor health was the prompt they needed to step in and help, Edy said.
Foundation chairman Mugijanto said, ""Schools are a perfect place to increase awareness of the importance of water conservation"".

""Students are also expected to inspire other people about this message." Students at Menteng Park demonstrated the lessons they had learned, including paper recycling and tree planting. The participating children also had some fun with a rubbish bin in the park.
""We're trying to make the bin more beautiful, so at least it will attract people to throw their garbage at the right place,"" said Alan, a third-year student at junior high school SMP 6 Bekasi as he helped paint the bin. (13)

AKU DAN SISWOYO

AKU DAN SISWOYO
Aku dan Sis tahun 1983, waktu pertama kali melakukan penelitian orangutan, Dia meninggal saat melahirkan anak, terlulu sering melahirkan. Biasanya orangutan, jarak kelahiran anak yang satu dengan yang lain 5-7 tahun. Tapi Sis kurang dari 4 tahun. Maklum setiap harii di Camp, badan subur dan jantanpun sering menaksirnya. Saat melahirkan ari-arinya ketinggalan, terinfeksi setelah ditemukan sudah koma. Siswoyo punya anak 3, Siswi, Simon dan Sugarjito.

National Geographic POD

The Daily Macro Photo

Astronomy Picture of the Day